Sudah bertahun-tahun saya hidup di Mesir tapi rasanya seperti baru kemarin sore. Selama itu, satu-satunya hal yang saya sesali adalah mengapa saya baru meminati Marxisme sebagai pemikiran tahun 21 dan mengapa saya baru menemukan orang-orang di sekeliling saya berminat ke Marxisme tahun 25-an.

Minat saya pada pemikiran Marx tidak dipicu oleh realitas. Tidak dipicu oleh pengalaman yang saya rasakan. Di tingkat sosial, saya tergolong kaum menengah ke atas. Keluarga saya memang memiliki banyak uang, pendapatan yang lumayan, hanya saja tidak termasuk dalam golongan kelas pemilik alat produksi.

Minat saya pada pemikiran Marx dan kaum Marxis lainnya semata-mata karena ia menggugat diskursus yang waktu itu saya pelajari, yaitu posmodernisme dan poskolonialisme. Dari situ pengalaman dan kesadaran Marxis saya bermula. Tidak dan belum revolusioner memang. Namun di waktu kemudian, simpati yang dalam terhadap apa yang terjadi di Palestina, situasi-situasi mutakhir di Indonesia, pengalaman para Marxis di Twitter turut merevolusionerkan apa yang saya ketahui dan memberikan arah ke mana bekal Marxisme yang saya miliki akan bergerak. Saya berterimakasih banyak untuk itu.

Saya sangat berterimakasih banyak untuk itu, karena situasi saya di Mesir seperti anjing tersesat yang ditinggal kawanan. Saya mempelajari teori-teori Marx sendirian. Meragu dan mencari ilmu-ilmu yakin sendirian. Menjadi Marxis sendirian di forum yang rutin saya datangi. Bahkan saya kerap merasa ada yang menghindari keberadaan saya. Orang-orang lebih berminat pada wacana posmo. Mungkin karena, dengan kajian kultural dan linguistiknya, ia benar-benar memikat seperti sirkus.

Barangkali ini adalah bulan-bulan terakhir saya di Kairo. Tidak ada alasan bagi saya untuk tinggal lebih lama kecuali keberadaan isteri dan teman-teman. Saya bangga sempat membuat lingkaran diskusi Marxis. Entah teman-teman saya menjadi Marxis atau tidak, adanya lingkar diskusi itu membuat saya merasa tidak seperti anjing yang ditinggal kawanan.

Barangkali saya bisa meninggalkan beberapa kenangan kecil. Daftar bacaan buat saya kedengarannya cocok. Terutama untuk teman-teman yang baru dilahirkan kembali sebagai Marxis. Agar tidak merasa seperti anjing tersesat ditinggal kawanan.

Bacaan, buat saya, seperti makanan yang hendak saya konsumsi. Saya harus lihat mutu gizinya. Tentu saja saya bukan ahli gizi. Saya hanya memeriksa bacaan yang saya konsumsi berdasarkan review-review dari para ahli yang saya temui. Entah itu saya lakukan lebih dahulu sebelum membaca, atau di tengah-tengahnya, atau sesudahnya. Kadang ada waktunya saya keracunan dan memulihkan diri berhari-hari. “Mengapa saya membaca Marxis reformis?!” saya menggerutu. Dalam situasi itu saya harus tahu bagian mana yang beracun dan bagaimana saya harus menyembuhkan bagian yang sudah diracuni ini. Setiap kali membaca setidaknya saya harus tahu buku A dan buku B yang menyoal buku A. Jadi ada proses yang lebih panjang dari sekedar membaca.

Karena bacaan saya perlakukan seperti saya mengkonsumsi makanan, maka saya memilah-milah mana yang bisa dibaca dan mana yang tidak. Mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak. “bisa dimakan” di sini antropologis. Tidak hanya sekedar edible dan tidak, tetapi juga mana yang halal dan mana yang haram. Babi edible untuk dimakan, tapi itu haram dalam keyakinan saya sebagai Muslim. Demikian halnya bacaan. Derrida bisa dibaca, tapi haram membacanya—dan mengamininya—jika anda berniat menjadi Marxis.

Buat saya, bacaan-bacaan yang mempromosikan sikap anti-komunisme dengan keras tidak boleh dibaca. Atau ia boleh dibaca tapi masuk daftar wishlist di baris paling akhir. Orang boleh berdebat untuk itu. “Animal Farm, masa baca aja ga boleh?!” Sebagai pemula, saya memilih untuk membaca buku lain terlebih dahulu. Ada banyak buku yang lebih bagus dan lebih benar untuk dibaca.

Saya berencana membuat daftar bacaan kecil-kecilan. Anggap saja sebagai tanda mata. Insyaallah.