
Buat saya, Bagian yang mengasyikkan dari mendiskusikan satu buku bersama adalah saling terbukanya ragam perspektif satu sama lain di dalam forum. Saya jadi memahami perspektif yang sebelumnya tidak saya tangkap. Saya jadi mengerti penekanan satu istilah yang sebelumnya saya lewatkan.
Jumat lalu saya mengikuti diskusi buku “Kekerasan Budaya Pasca 1965” karya Wijaya Herlambang. Pertemuan minggu lalu masih berkutat pada bab ketiga dari buku tersebut. Beberapa problem utama yang didiskusikan adalah seputar humanisme universal dan liberalisme dalam kebudayaan Indonesia. Termasuk di dalamnya adalah hubungan institusional antara penandatangan Manifes Kebudayaan (Manikebu), militer, dan CCF (Cultural Conference of Freedom).
Pemateri diskusi menggunakan istilah menarik dalam menjelaskan posisi para pendukung Humanisme Universal ini dengan compatible left. Kiri yang sesuai. Kiri yang cocok.
Setelah saya telusuri, maklum bahwa istilah compatible left pertama kali digunakan oleh Tom Braden, salah satu kepala bidang di CIA, lewat artikelnya I’m Glad the CIA Is ‘Immoral’ sekitar tahun 60-an. Dalam artikel tersebut, Braden menyebut compatible left dalam muatan fungsionalnya untuk membedakan setiap intelektual dalam spektrum kiri yang ia adalah non-komunis. Artikel Braden adalah respons terhadap terbongkarnya pendanaan CIA ke CCF oleh New York Times.
CCF menyalurkan dananya ke berbagai institusi kebudayaan sebagai bentuk kampanye anti-komunisme, termasuk di Indonesia disalurkan ke jaringan PSI dan majalah Konfrontasi, yang salah satu redakturnya adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Setelah hubungan antara CCF dan CIA terbongkar, CCF dibubarkan. Kemudian didirikanlah IACF (International Association for Cultural Freedom) yang tak lain merupakan kelanjutan institusional dari CCF yang telah didiskreditkan. IACF ini nantinya menjadi penyalur dana besar untuk majalah Horison dan beberapa proyek kebudayaan yang berhubungan dengan orang-orang Manikebu. Saya tidak akan membahas panjang lebar perihal ini di sini. Kita lanjut lagi ke istilah compatible left.
Istilah compatible left dalam penggunaan Braden tak lain hanya ganti dari dari istilah internal CIA yang digunakan sebelumnya yaitu non-communist left (NCL). Dua-duanya sama-sama berkaitan erat dengan operasi politik AS memerangi komunisme selama Perang Dingin.
Istilah compatible left sebagai konsep analitis baru dipakai pertama kali oleh Gabriel Rockhill. Compatible left sebagai konsep analitis tidak sekedar memaksudkan kompatibilitas (baca: kesesuaian kiri dengan kampanye anti-komunisme) dalam dimensi fungsionalnya saja, seperti Braden tadi. Tidak hanya berarti para kiri ini sesuai dengan kepentingan AS. Rockhill memperluas istilah ini sehingga mencakup kompatibilitasnya dengan tatanan kapitalis dan sikap politik tertentu terhadap sosialisme yang sejati. Istilah ini kemudian digunakan oleh Rockhill untuk menganalisis Madzhab Frankfurt dan Marxisme Barat.
Mengapa harus diperluas? karena kompatibilitas fungsional tidak sama dengan kompatibilitas teoretik. Untuk membuktikan gagasan Goenawan Mohammad, misalnya, keliru tidak cukup dengan kita membongkar fakta bahwa GM didanai oleh IACF. Melainkan juga perlu membuktikan gagasan GM secara internal, melalui teksnya yang tampaknya berbicara tentang kebebasan manusia itu, bahwa ia di dalam teksnya juga membawa pesan-pesan subliminal yang menormalisasi kekerasan dan membawa wacana anti-komunisme. Dan bahwa resepsi publik dapat menyimpulkan bahwa kiri adalah GM. Itulah yang dilakukan Rockhill dalam analisisnya atas Marxisme Barat.
Namun menariknya Rockhill mendemarkasi kaum kiri apakah ia compatible ataukah incompatible dengan melihat posisi politik mereka terhadap sosialisme sejati dan sikap anti-imperalisme. Walhasil setidaknya saya bisa meraba ada tiga lapis yang harus disoal ketika kita hendak menggunakan dengan penuh istilah compatible left ini: lapis institusional menyoal siapa yang didanai; lapis posisi politik menyoal sikap terhadap sosialisme; lapis teoretik menyoal apakah teorinya secara internal cacat.
Buat saya, ketika awal mula mendengar istilah tersebut, compatible left menarik untuk didiskusikan karena ia tidak hanya mengacu ke kiri reformis, oportunis, dan lain sebagainya. Tapi ia langsung mengacu ke lokus jaringan politiknya yang terhubung dengan ideologi dominan kapitalisme imperialisme. Tidak hanya kiri yang omong kosong. Tidak hanya kiri yang takluk pada kepentingan kapitalis. Tetapi kiri yang sesuai, serasi dalam tatanan “harmonis” kepentingan kapitalisme dan imperialisme. Atau sekurang-kurangnya yang mampu beradaptasi dan menyesuaikan dirinya dengan ideologi dominan.
Sependek yang saya baca tentang para intelektual Arab, betapa banyak compatible left di antara mereka. Kita dapat mengenali kompatibilitas mereka pada lapisan posisi politik dan lapisan teoretik. Jika ini dianalisis dan dibuktikan lapisan institusionalnya, apakah kita masih percaya dengan Adonis, L’aroui, Arkoun, dan pemikir Arab lain yang kita anggap kiri itu?