
Beberapa hari lalu, Maudy Ayunda sempat viral karena membuat vlog sarapan dan berbicara panjang lebar tentang mindfulness. Saya tidak sempat mengikuti banyak tentang itu di media sosial mana pun. Saya juga tidak menyimak betapa banyak pisuhan di X menanggapi video Maudy itu. Sekilas, yang saya simpulkan, Maudy berpesan untuk diet konsumsi berita demi menjaga kesehatan mental menghadapi berita buruk Indonesia yang bertubi-tubi.
Solusi mindfulness ini seperti para mutsaqqaf Arab setelah peristiwa kekalahan menghadapi Israel dalam peperangan singkat 6 hari pada tahun 1967. Dalam refleksi Muruwwah (1967) yang ditulis di al-Ādāb edisi Juli, tercatat bahwa banyak mutsaqqaf merespons kekalahan tersebut dengan meragukan agensi dan kekuatan peradaban Arab sendiri. Kekalahan itu, menurut para mutsaqqaf, adalah hasil dari kemunduran Arab sebagai sebuah peradaban. Arab adalah wilayah terbelakang (secara kekuatan, intelektual, kebudayaan, teknologi, ekonomi dst.) yang kalah maju dari Israel dan Barat. Terdapat jarak peradaban yang merentang di antara Arab dan Barat.
Menurut para mutsaqqaf itu, solusinya adalah melihat kembali kedalaman diri, membersikan diri dari kemarahan dan hal-hal negatif, yang dimulai dari tingkat individual. Menurut Muruwwah, ini tidak lain adalah eskapisme. Manuver Depolitisasi. Pelarian dari medan peperangan realitas yang sebenarnya. Kapitulasi dan penyerahan senjata. Dan lebih dalam lagi, dengan pemahaman peradaban yang semacam itu, sama halnya dengan menyerahkan turāts yang sebenarnya memiliki kekayaan dan potensi revolusioner di hadapan kekuatan imperialis.
Ajakan untuk diet berita Maudy setali tiga uang dengan eskapisme dari kenyataan kekalahan (atau lebih buruk dari itu?). Diet berita adalah satu bentuk pelarian dari krisis tanpa benar-benar keluar darinya.
Saya pribadi pernah secara emosional tidak mampu mengikuti feed di X. Saya tidak tahan mendengar berita buruk dan tetek bengek opini netizen di X. Kemarahan meluap-luap dan jantung berdegup-degup ketika scroll feed X. Kadang saya juga merasa overstimulasi melihat perdebatan-perdebatannya.
Lantas saya mencari solusi bagaimana agar tetap bisa mengikuti berita-berita di sekeliling tanpa harus overstimulasi. Preferensi personal saya adalah mengikuti pemberitaan lewat media beritanya langsung. Dalam bentuk yang benar-benar berita dan artikel. Itu adalah solusi ketika saya secara emosional tidak mampu mendengar berita buruk dan beban opini massa di X. Saya berpikir bahwa overstimulasi yang saya rasakan, di samping karena opini-opini di X, juga dikarenakan tidak adanya jeda dalam rantai berita yang dipos oleh orang-orang. Berita buruk satu menyusul berita lainnya di layar saya, semacam sumbu yang dengan cepat memicu ledakan. Dan membaca berita dalam bentuk tulisan panjang, buat saya, memberi ruang untuk jeda tersebut.
Semua media berita yang saya ikuti saya daftarkan dalam rss reader di gawai. Saya menggunakan Capy Reader di handphone dan RSS Dashboard di Obsidian Desktop. RSS reader adalah semacam aplikasi daftar berita pada umumnya (seperti google news, gitu) tetapi dapat ditambahkan media berita lain yang saya inginkan. Saya tetap mengikuti berita-berita dalam bentuk laporan warta, opini, esai, dalam bentuk tulisan panjang yang memberi jeda bagi saya mencerna emosi saya sendiri. Mulai dari BBC Indonesia, Indoleft, projectmultatuli.org. in Defence of Marxism, revolusioner.org, mintpress.news, al-sifr.org, revsoc.com, Sedane, Arah Juang, Indoprogress dan seterusnya hingga akun substack Max Lane, saya daftarkan semua.
Saya jadi mindful tanpa harus kabur dari kenyataan. Saya mindful dengan kabar di sekeliling saya lewat konsumsi berita dengan bentuk yang berbeda.