Terus terang saja, saya kerap kali menemui kesulitan ketika menulis. Saya tak bisa mengeluarkan kata-kata yang saya pikirkan dengan santai dan tenang. Dari premis satu ia langsung lompat ke premis tiga, ke premis 6 dst. Pada akhirnya apa yang saya tulis rumpang, tidak runtut.

Melihat postingan al-Mizan SC, yang memuat tulisan Mbak Hamidah, saya meri tak karuan dengannya dan gundah gulana melihat kondisi saya sendiri. Mbak Hamidah bisa menulis apa yang ia pikirkan pelan-pelan, runtut dan mengalir. Seolah sedang menggandeng pembaca dan mengantarnya ke satu tujuan yang sama. Adapun saya, dalam 3 tulisan saya terakhir saja misalnya, kerap merasa terlalu sering menyeret pembaca. Menghadirkan di hadapan mereka letupan-letupan ide. Pernyataan yang meledak-meledak, dalam baris-baris premis yang singkat sebagai alur sumbunya.

Barangkali saya tidak ahli menjadi akademisi. Menurut saya, akademisi haruslah mampu menulis dengan runtut. Dia harus bisa memilah bagian-bagian dari apa yang ia tulis, dan menjelaskannya pelan-pelan satu per satu. Saya merasa tidak berbakat untuk itu.

Saya juga tidak ulung menjadi esais. Sebab bagaimanapun, tidak seperti esais lepas di koran-koran dan media massa, saya tidak pandai merangkai kata-kata. Saya tidak pandai memikat pembaca untuk menturuti dan selalu memegang kata-kata yang saya tuliskan. Pembaca mungkin akan menyerah di paragraf kedua, pikir saya, atau meninggalkan tulisan saya sama sekali.

Saya juga tidak bakat menjadi pencerita. Saya bisa bercerita, tapi sumbunya pendek dan putus-putus. Mana ada cerita yang tidak runtut! Mata api cerita saya begitu singkat nyalanya. Kata-kata saya juga sulit untuk dinikmati. Metafora yang ganjil dan gelap. Itu yang kerap ada pada tulisan saya. Saya merasa itu sangat tidak merepresentasikan kemampuan pencerita.

Akhir-akhir ini, saya merasa harus mengesampingkan fase kreatif menulis. Saya ingin sekali menjadi menjadi penulis. Keinginan saya yang demikian ini karena saya gemar membaca. Saya gemar memikirkan hal-hal rumit dan kompleks dari mekanisme-mekanisme yang bekerja di sekeliling saya. Saya tahan dan kuat untuk membaca Kapital-nya Marx yang berbusa-busa menjelaskan kapital sebagai proses. Saya juga tak bosan-bosan membaca Muqaddimat Nazhariyat-nya Mahdi Amil yang panjang lebar hanya untuk mengetahui bahwa terdapat kolonialisme dalam kapitalisme. Dari sekian banyak orang-orang di sini, mungkin hanya sedikit kepala saja yang mampu untuk melakukan itu. Bukan karena kurang pintar atau rajin atau apa pun itu semacamnya, tetapi lebih karena waktu dan tujuan yang berbeda semata. Saya ingin memiliki andil dan membantu orang-orang agar dapat memahami dengan sederhana kerumitan dan kompleksitas dari mekanisme tersebut, yang membutuhkan waktu banyak untuk memahaminya.

Tetapi seperti saya katakan tadi. Saya tak pandai menuliskannya dengan kata-kata. Saya pikir ini berkaitan dengan cara kerja otak saya yang sering melompat dan tidak runtut, sering melewatkan ide-ide yang sederhana padahal itu penting atau semacamnya. Atau karena, barangkali di bawah alam sadar saya, selama proses menulis saya tak sabaran untuk sampai ke tujuan saya. Saya tidak tahu mana yang lebih benar.

Yang jelas, saya tidak santai dan tenang ketika menulis. Tapi, ketenangan itu saya dapatkan ketika saya membaca. Saya merasa dalam setiap proses saya membaca selalu terdapat jeda di mana pikiran saya dapat mengasosiasikan hal-hal lain di luar buku, dan saya kerap memikirkannya dengan runtut. Tapi itu selalu hilang sebab tidak saya catat. Namun ada dilema ketika saya tergerak untuk mencatatnya. Setiap kali saya mencatatnya langsung, gairah untuk berlanjut ke bagian berikutnya selalu pupus dan menghilang. Apalagi jika itu ingin saya tuangkan dalam bentuk esai atau artikel. Laptop saya menyala, tapi pikiran saya berhenti.

Saya sedang melatih diri untuk mencatat apa yang sedang saya baca. Mencatat sebagai wirid. Fase yang, sejujurnya, menjengkelkan buat saya. Itu bukanlah kebiasaan saya sebelumnya. Namun, saya tetap mencari berbagai cara agar itu terasa menarik. Agar itu terasa penting dalam hidup saya. Saya mempelajari dan mencoba berbagai teknik. Saya mencoba berbagai pengalaman orang lain dalam mencatatnya. Saya merasa catatan saya tidak bagus ketika saya tuliskan, tapi saya harus merasa legawa, “itu adalah bagian dari proses” pikir saya.

Saya juga mencoba untuk menjangkarkan kebiasaan mencatat ini pada tujuan-tujuan yang terlihat saja: agar ketika menulis saya tahu apa yang hendak saya tuliskan satu per satu.