Ditulis oleh Vijay Prashad pada 14/01/2026 dan diterjemahkan dari CounterPunch.org
Iran sedang dilanda kekacauan. Di seluruh negeri, telah terjadi demonstrasi dengan skala yang beragam, dengan tingkat kekerasan yang meningkat di mana baik demonstran maupun polisi berakhir di kamar mayat. Apa yang awalnya bermula dengan aksi mogok kerja dan protes terhadap inflasi telah menghimpun berbagai bentuk ketidakpuasan, dengan perempuan dan pemuda yang frustrasi terhadap sistem yang tidak mampu menjamin penghidupan mereka. Iran telah berada di bawah blokade ekonomi yang berkepanjangan dan diserang secara langsung oleh Israel dan Amerika Serikat, tidak hanya di dalam perbatasannya, tetapi juga di seluruh Asia Barat (termasuk di wilayah-wilayah diplomatiknya di Suriah). Perang ekonomi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat telah menciptakan situasi bagi kekacauan ini, tetapi kekacauan itu sendiri tidak ditujukan kepada Washington, melainkan kepada pemerintah di Tehran.
Terdapat laporan—seperti di media utama Israel, Ha’aretz, pada Oktober 2025 tentang operasi-operasi Israel yang bertujuan untuk menempatkan Reza Pahlavi sebagai Shah Iran—bahwa intelijen Israel memiliki peran dalam protes tersebut, dan Amerika Serikat secara terbuka telah mengatakan kepada para demonstran bahwa mereka akan membom Tehran jika kekerasan oleh pemerintah meningkat. Tahun lalu, protes meletus di dua belas kilang minyak South Pars, di mana lima ribu pekerja kontrak dari Serikat Pekerja Kilang Gas Bushehr berdemonstrasi bersama keluarga mereka pada 9 Desember di Asaluyeh untuk menuntut upah yang lebih tinggi dan kondisi kerja yang lebih layak. Ketika para pekerja membawa perjuangan mereka ke Parlemen Nasional di Tehran, di mana mereka menuntut dihentikannya sistem kerja kontrak, Israel dan Amerika Serikat memanfaatkan protes-protes tulus ini untuk mencoba mengubah perjuangan yang sah menjadi operasi penggantian rezim.
Untuk memahami apa yang sedang terjadi, berikut ini merupakan enam poin penting secara historis yang disajikan dalam semangat diskusi. Sejak 1979, Iran telah memainkan peran yang sangat penting bagi gerakan mengatasi monarki di dunia Arab dan Muslim, dan telah menjadi pendukung penting bagi perjuangan Palestina. Iran tidak asing dengan campur tangan luar, mulai dari kendali Inggris atas minyak Iran pada 1901, Konvensi Anglo-Rusia 1907 yang membagi Iran menjadi wilayah pengaruh, kudeta 1921 yang menempatkan Reza Khan di takhta pemerintahan, kudeta 1953 yang menempatkan putranya, Mohammed Reza Shah Pahlavi, di takhta pemerintahan, dan kemudian perang hibrida melawan Revolusi Iran dari 1979 hingga saat ini. Berikut adalah enam poin:
1. Revolusi Iran tahun 1978-79 telah menggulingkan pemerintahan Shah Iran Reza Pahlavi, dan karena kuatnya kalangan ulama dan formasi politiknya, hal ini menghasilkan pembentukan Republik Islam pada April 1979 dengan Konstitusi Republik Islam yang mulai berlaku pada Desember 1979. Aliran-aliran lain dalam revolusi (dari kiri komunis hingga liberal) sebagian besar dari mereka terpinggirkan dan bahkan—dalam beberapa kasus—direpresi. Demonstrasi 8 Maret 1979 di Tehran pada Hari Perempuan Internasional dipicu oleh pembatasan hak-hak perempuan (terutama terkait kebijakan wajib hijab), yang memaksa pemerintah untuk menerima tuntutan demonstrasi—namun ini hanyalah kemenangan sementara, karena pada 1983 undang-undang wajib hijab kembali disahkan.
2. Revolusi tersebut bergulir setelah kudeta militer Zia ul-Haq di Pakistan pada tahun 1977, Revolusi Saur di Afghanistan (Agustus 1978), pembentukan Partai Sosialis Yaman (Oktober 1978) yang membawa Republik Demokratik Rakyat Yaman ke dalam lingkup pengaruh Soviet dan yang menyebabkan Perang Utara-Selatan di Yaman (Februari-Maret 1979), serta pengambilalihan kekuasaan oleh Saddam Hussein di Irak pada Juli 1979—seluruh wilayah Asia Selatan-Barat dan Tengah terjerumus dalam gejolak politik yang hebat. Beberapa perkembangan ini (Pakistan, Irak) memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat, sementara lainnya (Afghanistan, Iran, Yaman) bertentangan dengan tujuan AS di wilayah tersebut. Dalam waktu singkat, Amerika Serikat berusaha memanfaatkan keuntungannya dengan mencoba menggulingkan Republik Islam Iran, Republik Demokratik Rakyat Yaman, dan Republik Demokratik Afghanistan.
3. Tekanan Amerika Serikat terhadap proses-proses tersebut menyebabkan situasi perang di ketiga negara: Amerika Serikat dan sekutunya di Teluk mendesak Irak untuk menyerang Iran tanpa provokasi pada September 1980, memicu perang yang berlangsung hingga 1988; negara-negara Arab Teluk mendesak Yaman Utara untuk menyerang Yaman Selatan setelah pembunuhan Salim Rubaya Ali (seorang Maois yang sedang bernegosiasi penggabungan dua Yaman); akhirnya, di Afghanistan, AS mulai mendanai mujahideen untuk melancarkan kampanye pembunuhan terhadap kader Partai Demokratik Rakyat Afghanistan. Iran, Afghanistan, dan Yaman melihat proyek-proyek sosial mereka terkendala oleh serangan dari luar. Afghanistan terjerumus ke dalam lebih dari empat puluh tahun kekerasan dan perang yang mengerikan, meskipun Republik Demokratik Afghanistan tetap berdiri selama delapan belas tahun; pemerintah Marxist di Yaman Selatan bertahan sampai 1990, tetapi hanya menjadi bayangan yang memudar dari harapan mereka sendiri; Iran, sementara itu, melihat Republik Islamnya bertahan dari kebijakan sanksi keras yang mengikuti berakhirnya perang dengan Irak (pada 1988).
4. Republik Islam menghadapi beberapa tantangan penting berturut-turut:
+Tantangan paling penting datang dari imperialisme AS, yang tidak hanya sepenuhnya memicu perang Irak, tetapi juga mendukung inisiatif elit Iran sebelumnya untuk memulihkan kekuasaan mereka dan mendukung upaya Israel untuk melemahkan Republik Islam (termasuk serangan langsung terhadap Iran, operasi sabotase, dan pembunuhan tokoh-tokoh kunci dari kalangan ilmuwan dan militer). Amerika Serikat dan Israel secara sistematis berusaha melemahkan kekuatan Iran di kawasan tersebut melalui pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani pada 2020, serangan brutal terhadap Hezbollah selama genosida Israel, dan pembunuhan Syed Hassan Nasrallah pada 2024, serta penggulingan pemerintah Suriah pada Desember 2024 dengan penunjukan mantan pemimpin al-Qaeda sebagai Presiden di Damaskus.
+ Para elit Iran lama, yang pada awalnya dipimpin oleh Shah hingga kematiannya pada 1980 dan kemudian putranya, yang disebut Putra Mahkota Reza Pahlavi, bergabung dengan Eropa dan AS untuk memulihkan kekuasaan mereka. Penting untuk diketahui bahwa meskipun Shah telah menduduki Takhta Merak sejak 1941, ia dipaksa menerima pemerintahan demokratis dari 1951 hingga 1953—yang digulingkan oleh layanan intelijen Barat—dan kemudian Shah didorong untuk menjalankan kekuasaan absolut dari 1953 hingga revolusi 1978-79. Blok Shah secara konsisten ingin kembali berkuasa di Iran. Meskipun Gerakan Hijau 2009 memiliki unsur monarki yang sangat kecil, gerakan tersebut mewakili kelas dominan yang menginginkan reformasi politik melawan kepresidenan Mahmoud Ahmadinejad yang lebih populis. Menariknya, Amerika Serikat telah ‘memilih’ putra Shah, yang tinggal di Los Angeles, sebagai figur pemberontakan ini.
+ Batasan-batasan terhadap agenda sosial transformatif republik tersebut terlihat jelas, karena pemerintah membiarkan sebagian elit lama mempertahankan kepemilikan properti mereka, sehingga memungkinkan terbentuknya sistem kelas yang terstratifikasi yang menguntungkan sebagian pemilik properti tersebut dan kelas menengah yang sedang berkembang. Setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini pada Juni 1989 dan berakhirnya Perang Iran-Irak, pemerintah mengadopsi sebagian besar kebijakan penyesuaian struktural (structural adjustment policies) Dana Moneter Internasional (IMF), yang—bagaimanapun juga—tetap berlaku selama puluhan tahun (kebijakan ini dipimpin oleh Mohsen Nourbaksh, yang menjabat sebagai Menteri Urusan Ekonomi dari 1989 hingga 1994 dan kemudian menjadi kepala Bank Sentral dari 1994 hingga 2003). Ekonomi Iran pada 1979 memang tidak disusun berdasarkan garis sosialis, tetapi telah dibangun peran yang kuat bagi negara dan perencanaan publik akibat kebutuhan ekonomi perang serta komitmen terhadap kesejahteraan sosial Islam. Nourbaksh juga memang tidak dapat sepenuhnya membongkar peran negara, tetapi ia melakukan reformasi mata uang dan perbankan serta secara hati-hati selagi ia mengintegrasikan Iran ke dalam ekonomi global. Kesenjangan kelas dan kesulitan hidup bagi mayoritas warga Iran meningkat akibat dampak gabungan dari sanksi AS-Eropa, ancaman militer AS-Israel (yang menyebabkan pengeluaran militer yang tinggi di Iran—meskipun masih sekitar 2,5 persen dari PDB, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan 12 persen PDB pada masa pemerintahan Shah), dan kebijakan neoliberal yang diterapkan oleh menteri keuangan pemerintah yang semakin neoliberal (seperti Ali Tayebnia dari 2013 hingga 2017 dan Ali Madanizadeh dari 2025). Batasan-batasan Republik Islam inilah yang telah menyebabkan siklus protes ekonomi: 2017-2018 (inflasi dan pemotongan subsidi), 2019 (kenaikan harga bahan bakar), 2025 (oleh para produsen roti), dan 2025-26 (inflasi yang melonjak dan keruntuhan mata uang Iran, rial).
5. Meskipun protes saat ini didorong oleh nilai tukar Rial ke USD yang mencapai rekor tertinggi dan tingkat inflasi makanan sebesar 60 persen, transisi dari pemogokan buruh di South Pars ke kekerasan urban yang terkoordinasi menunjukkan adanya tingkat intervensi yang lebih dalam. Pemerintahan telah mengutamakan sektor impor-ekspor yang beroperasi dalam konteks sanksi untuk membantu eksportir komoditas dengan mengorbankan importir—situasi yang sulit untuk diperbaiki. Namun, penurunan nilai tukar mata uang sebesar 30-40 persen secara tiba-tiba merupakan ciri khas manipulasi keuangan eksternal. Oleh karena itu, apa yang semula merupakan protes pemilik usaha terhadap Bank Sentral yang mana itu tanpa campur tangan, segera berubah menjadi serangan kekerasan top to down terhadap struktur negara. “Protes” tersebut berubah secara tiba-tiba dari aksi damai menjadi sabotase urban berintensitas tinggi, yang mengakibatkan kematian sekitar 100 petugas penegak hukum, dengan klaim bahwa beberapa petugas dibakar hidup-hidup, seorang anggota keamanan dipenggal, dan sebuah klinik medis dibakar, menewaskan seorang perawat. Penggunaan tembakan senjata api jarak dekat terhadap warga sipil semakin menunjukkan sebuah upaya untuk memaksimalkan ketegangan domestik dan memberikan dalih untuk intervensi asing. Orkestrasi geopolitik di balik kekacauan tersebut menjadi tak terbantahkan ketika Departemen Luar Negeri AS dan Mossad secara terbuka menyambut kekerasan tersebut secara real-time. Setelah otoritas mematikan akses internet, protes tersebut kehilangan kekuatan secara signifikan, yang menimbulkan pertanyaan tentang spontanitas gerakan tersebut dan memperkuat tesis bahwa ada strategi destabilisasi yang sedang berlangsung, yang bertujuan untuk memanfaatkan situasi internasional saat ini.
6. Oposisi telah turun ke jalan, namun sadar bahwa mereka tidak memiliki kekuatan untuk merebut kekuasaan. Terdapat beberapa laporan tentang campur tangan AS dan Israel, dan hal ini tidak membantu oposisi karena putra Shah telah mengklaim kredit atas protes-protes tersebut dan melihat dirinya sebagai penerima manfaatnya. Dengan Trump memimpin hiper-imperialisme, dan Israel berada dalam periode yang mereka anggap merupakan kemenangan tanpa henti, sulit untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh kelompok-kelompok yang berbahaya ini. Seiring dengan melemahnya mobilisasi, yang pasti akan terjadi AS-Israel mungkin akan memanfaatkan situasi untuk menyerang Tehran dan kota-kota lain dengan kekuatan yang lebih besar daripada yang mereka lakukan pada Juni 2025. Hal ini harus menjadi kekhawatiran tidak hanya bagi rakyat Iran, yang mayoritas tidak menginginkan serangan terhadap negaranya, tetapi juga bagi rakyat Global-South—yang akan menjadi target berikutnya setelah Venezuela dan Iran.
Masalah ril memang mendera penduduk, tetapi masalah-masalah ini tidak akan diselesaikan melalui serangan udara hiper-imperialis oleh AS dan Israel. Orang-orang Iran perlu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Rezim sanksi dan ancaman-kekerasan tidak membantu hal itu terjadi. Mudah untuk mengatakan “solidaritas untuk orang Iran” di Barat, di mana demonstran dipukuli dan bahkan dibunuh karena dukungan mereka terhadap Palestina dan kemarahan mereka terhadap kebijakan anti-imigrasi; tetapi jauh lebih sulit untuk mengatakan “akhiri sanksi,” sehingga memungkinkan rakyat Iran untuk menentukan masa depan mereka sendiri.