Forum nobar dan diskusi film “Pesta Babi” (yang diniatkan untuk mempelajari bersama tentang apa yang terjadi di Papua) minggu lalu (25/05) ditanggapi oleh salah satu peserta yang mengaku aktivis sebagai forum curhatan belaka, yang tak berbeda dari gosip. Hanya pertukaran simpati dan seterusnya.
Tanggapan itu buat saya bermasalah, dan lebih bermasalah lagi ternyata ia hanya berputar-putar dan berhenti sampai di situ. Sampai di situ saya menyimpulkan bahwa penanggap tidak hendak berbagi pesan apa pun kecuali gertakan ala abang-abangan “aktivis”. Itu pun gertakan yang gagal. Dan malah mendiskreditkan apa yang sudah dilakukan oleh peserta lainnya.
Lantas saya berpikir jika ini tidak dituliskan dan dibaca oleh orang-orang, boleh jadi peristiwa serupa akan terulang di tempat lain. Jadi saya hanya ingin berpesan kepada setiap mahasiswa yang mengaku aktivis agar tidak mengulanginya. Juga agar tidak berhenti mempelajari sesuatu dan tidak menganggap mempelajari sesuatu sebagai aktivitas yang remeh temeh yang tidak berbeda dengan saling curhat dan bergosip.
Mempelajari sesuatu tidak sama dengan mempelajari semua hal atau “asal” mempelajari. Sesuatu ini harus didefinisikan. Dan dengan definisi yang tepat, dengan gambaran yang tajam dan sesuai tentang sesuatu tersebut, akan tersedia pendekatan yang tepat pula bagi kita dalam melihat dan mengambil sikap terhadapnya.
Mendiskusikan apa yang terjadi di Papua sebagai kolonialisme adalah gambaran yang tidak mudah dicerna dan cepat dipahami. Kita tidak dapat serta merta percaya dengan pandangan sekilas saja atau dengan omongan orang yang mengklaim bahwa Papua adalah pihak terjajah dan pemerintah Indonesia adalah penjajah. Untuk sampai kepada klaim tersebut, diperlukan pengamatan yang betul-betul tentang apa yang terjadi dan relasi apa yang terbangun di antara Papua dan pemerintah Indonesia.
Pengamatan ini didasarkan pada apa? Karena kita masisir tidak memiliki akses langsung untuk pengamatan tersebut, maka kita harus melihatnya dari khabar mutawatir: melalui buku-buku, berita-berita, film-film termasuk pesta babi, dan dokumentasi-dokumentasi yang tersedia lainnya.
Berdasarkan hasil pengamatan ini, kita dapat melihat bahwa terdapat hubungan yang tidak setara antara Papua dan Jakarta, di mana yang kedua secara predatoris mendominasi yang pertama. Hubungan keduanya adalah hubungan non-resiprokal. Berdasarkan hasil pengamatan pula, kita juga tahu bahwa terdapat perampasan dengan skala kekerasan yang luar biasa: dengan kekuatan militeristik, hukum, kebijakan politik dan lain sebagainya. Dan berdasarkan hasil pengamatan pula, kita juga tahu bahwa kekerasan dengan skala yang luar biasa ini dari sudut pandang pemerintah Indonesia memang diperlukan, sebab akumulasi kapital tidak dapat terjadi tanpa menumpas setiap resistensi rakyat Papua dan menghancurkan ikatan kolektifnya.
Hasil pengamatan satu saling terhubung dengan hasil pengamatan lainnya, membentuk pola-pola yang disebut sebagai kolonialisme. Ini tidak serta merta secara otomatis dapat terhubung satu sama lain dengan sendirinya. Hanya melalui kerja-kerja pembelajaran yang secara aktif kita lakukan sehingga hubungan-hubungan ini dapat terlihat. Setelah selesai menghubungkan, kita tahu bahwa terdapat beragam pendekatan untuk memikirkan apa yang sedang terjadi di Papua seturut dengan beragamnya aspek yang menjadi lingkup kolonialisme.
Dengan mendudukkan apa yang terjadi di Papua sebagai satu bentuk kolonialisme, maka perjuangan atasnya juga terhubung dengan kolonialisme di berbagai penjuru dunia. Apa yang terjadi di Papua terhubung dengan wilayah-wilayah lain yang juga sedang mengalami proses-proses perampasan. Mulai dari Palestina, Kuba dan Amerika Latin, Afrika Selatan, sampai wilayah-wilayah konsesi lahan lainnya di Indonesia sendiri. Pertama, kita menjadi tahu duduk persoalannya. Kedua, kita tahu ke arah mana kita harus bergerak. Terakhir, kita tahu siapa yang mesti kita lawan dan seperti apakah lawan kita itu.
Berbagai tahapan ini tentu saja tidak dapat tercapai dengan gertakan, melainkan dengan pembelajaran yang rumit dan melelahkan. Pembelajaran yang tidak semudah bergosip dan bertukar curhatan. Pembelajaran yang membutuhkan komitmen yang tidak biasa.
Dengan pembelajaran yang rumit dan melelahkan, kita tidak hanya menghasilkan kumpulan informasi, tetapi juga posisi dalam bersikap dan bertindak. Dan inilah seringan-ringannya komitmen perjuangan bagi kaum mahasiswa, terlebih kaum mahasiswa yang tidak menghadapi kekerasan serupa di Papua secara langsung. Tidak seperti orang Papua asli yang terbatas akses pendidikannya dan terpaksa hidup dalam arus perjuangan yang tiada henti, kita masisir di sini tidak mengalami perjuangan serupa, dan tidak pula terkena getahnya secara langsung. Namun melalui pembelajaran yang disiplin dan serius atas praksis perjuangan yang sedang berlangsung di Papua, atas pengalaman hidup masyarakat asli Papua sendiri, kita tetap bisa memihak kepada rakyat Papua dan menginsafi bahwa negara kita adalah negara penjajah. Dari situ kita tahu apa yang mesti kita kerjakan baik di masa kini maupun di masa depan.
Aktivisme mesti dibangun di atas komitmen pembelajaran yang serius. Dan pembelajaran juga termasuk bagian dari aktivisme.
Aktivisme tidak dibangun hanya di atas artikulasi-artikulasi yang garang dan sok keras. Itu adalah aktivisme kekanak-kanakan.
Lawan kita tidak akan gentar dengan hanya artikulasi-artikulasi garang dan sok keras. Malah akan menertawakan dan terpingkal-pingkal di balik punggung kita. Lawan kita akan menjadi ketakutan jika ada sekumpulan mahasiswa diskusi bersama menyingkap kebobrokan mereka. Lawan kita akan ketakutan dengan itu sebab kebobrokan itu benar adanya dan tidak dapat mereka bantah. Lawan kita akan gemetar tanpa kita menggertaknya dengan seruan-seruan “aksi” yang sok keras.