
Sebagian besar masisir yang menggiati dunia pemikiran Islam dan Arab, lebih-lebih mahasiswa baru, biasanya tak jauh-jauh dari pemikiran Hassan Hanafi, Abid Al-Jabiri, Mohammed Arkoun, dan pemikir-pemikir lain yang oleh kabanyakan orang awam disebut pemikir liberal. Pemikiran dan gagasan dari barisan pemikir ini biasanya dibaca dengan penuh kekaguman dan harapan-harapan emansipatif di hadapan tradisi berpikir yang membelenggu. Alasan lainnya mungkin barisan pemikir inilah yang terdengar di Indonesia, khususnya bagi mahasiswa baru yang dekat dengan abang-abangan UIN.
Tak sedikit dari mereka kemudian yang menemui momen di mana kepercayaan dan tumpuan terhadap pemikiran yang telah mereka pelajari itu surut, ketika ternyata mereka menemukan bahwa teori-teori yang menyusun kerangka pemikiran tadi memiliki keterbatasan-keterbatasan teoritis (theoritical limits), atau ketika teori-teori itu ternyata gagal menjelaskan kepada mereka dan memberikan solusi yang pasti tentang problem tertentu di kenyataan, atau ketika teori itu justru mengaburkan sebagian dari objek yang sedang mereka kaji sehingga terjatuh dalam ketak-ilmiahan, atau sesederhana ketika mereka merasa bosan, “mengapa dunia begini-begini saja dan tak ditemukan satu gebrakan.”
Jika demikian yang terjadi biasanya mereka akan bergeser ke tren pemikiran lain. Dan dalam kasus saya, saya memilih marxisme sebagai wahana baru.
Pintu-Pintu Menuju Wahana Marxisme
Pintu bagi wahana baru ini, bisa anda masuki melalui perkenalan dengan pemikir-pemikirnya secara langsung, dengan gagasan Marx dan teori-teorinya: dengan ekonomi politik, sosialisme ilmiah dan materialisme historis. Tapi itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk benar-benar menguasai beberapa istilah teknis yang digunakan. Apalagi menjelang imtihan begini. Di waktu luang saja, bisa jadi anda malah keburu bosan dan tidak betah dengan perkenalan-perkenalan istilah baru. Oleh karenanya, buat saya pintu yang paling mudah dilewati untuk menuju wahana marxisme adalah kritik-kritik perspektif marxis, kritik yang dapat menjelaskan secara lebih jauh kegamangan kita terhadap tradisi pemikiran yang telah kita pelajari. Baru kemudian kepada bangunan teori marxisme. Dunia pemikiran Arab kontemporer di barisan marxis sangat kaya dengan kritik-mengkritik, pemikir satu terhadap pemikir lainnya. Tentu kritik yang dimaksud bukan kritik untuk menjatuhkan atau mencela, tetapi kritik untuk mencari titik kelemahan gagasan dan memperbaiki serta membangun kembali gagasan yang lebih segar. Kritik yang dimaksud adalah kritik yang destruktif-kreatif.
Pemikir Arab yang berhaluan marxis sebagian besar gemar mengkritik. Etos ini sebenarnya telah mentradisi kuat pada sosok bapak pemikiran mereka, yaitu Karl Marx. Marx menunjukkan bagaimana kapitalisme bekerja dan membukakan jalan bagi transformasi radikal, bertolak dari kritik atas kenyataan dan kritik atas tradisi ekonomi-politik yang digagas oleh Smith, Ricardo dan lain-lain. Dari kritik itu lahirlah ekonomi-politik Marxis dan Sosialisme ilmiah yang tertuang di Das Kapital. Marx juga mengkritik hegelian muda dan membentuk sistem filsafat sendiri yang dinamai karibnya, Engels, dengan Materialisme Historis. Tak berbeda dari Marx, Engels mengkritik pandangan idealistik Dühring dan dapat melengkapi materialisme ilmiah Marx. Lenin mengkritik Bernstein dan revisionis lainnya, juga terhadap empirio-kritisisme, mempertajam marxisme sebagai senjata revolusioner. Althusser dalam “For Marx” mengkritik berbagai interpretasi marxisme sebelumnya dan menawarkan pendekatan struktural terhadap teori marxis. Jika disebutkan satu-per satu tentu tulisan ini tidak akan selesai. Marxisme sendiri sangat identik dengan kritik, baik terhadap kenyataan riil atau terhadap tradisi-diri atau terhadap tradisi-lain.
Untuk menerapkan gagasan Marx, pemikir Arab tidak hanya tathbiq begitu saja teori kepada praktik, akan tetapi amat membutuhkan proses kreatif dan tentu saja kritik untuk membuat preskripsi yang pas. Dan tidak sedikit dari mereka yang mengkritik pemikir lainnya untuk membidani kelahiran proyek besar pemikirannya. Dapat disebutkan di antaranya adalah Husain Muruwwah. Ia mengkritik tradisi filsafat Arab sejak era klasik hingga kontemporer, lalu menawarkan versi segar dan revolusioner bagi pembacaan sejarah filsafat secara materialis. Ada juga Isam Khafaji yang mendedah corak produksi masyarakat Arab dan menjadi mega proyeknya, sampai pada kesimpulan yang berbeda dengan Marx. Mahdi Amil mengkritik Althusser dan menawarkan kerangka teoritis yang baru untuk gerakan politik komunis-nasional1. Samir Amin yang berfokus pada kajian nilai surplus mengkritik pendekatan developmentalis di barisan pemikir Marx dan menemukan relasi euro-sentris dalam relasi kapitalisme-imperialisme.
Sayangnya, seperti tadi telah disebutkan, menyelesaikan buku-buku besar itu akan sangat sulit, penuh terjal, dan berliku.
Untungnya, di samping kritik yang membidani proyek besar, pemikiran marxisme di Arab juga diperkaya dengan kritik-kritik yang sifatnya keseharian, yang sangat dekat dengan tradisi pemikiran dan kebudayaan kita, meski tidak dapat langsung mengantarkan kita kepada proyek besar mereka. Kritik ini kerap kali berupa analisa terhadap keterbatasan-keterbatasan teoritis dari gagasan pemikir lain dan penemuan jejak baru diskursus yang mungkin untuk ditapaki oleh pembaca. Lalu kritik ini dituliskan dalam bentuk artikel atau catatan dan dihimpun ke dalam satu buku bunga rampai. Untuk membacanya bersifat mana-suka dan tidak harus berurutan bab, sehingga dapat mengisi waktu luang di tengah-tengah imtihan.
Berikut ini akan saya urutkan beberapa buku kritik yang dapat dibaca, dari tema yang paling umum dan acak ke yang paling khusus.
1. Al-Wa’yu wa al-Wa’yu a’-Za’if fī al-Fikr al-‘Araby al-Mu’āshir (1988) — “Kesadaran dan Kesadaran Palsu dalam Pemikiran Arab Kontemporer”
Buku ini merupakan kumpulan artikel yang ditulis oleh Mahmud Amin al-‘Alim, kritikus sastra berhaluan marxis terkemuka Mesir, dari tahun 1974 hingga 1985. Sebagaimana diakui sendiri oleh al-‘Alim, kumpulan artikel yang satu ini lebih analitis dan lebih mendalam dibandingkan buku kritik yang ia tulis di tahun-tahun sebelumnya, al-Ma’ārik al-Fikriyyah. Tren pemikiran seperti Kritik Nalar, Islam Kiri, eklektisme turats-modernitas, Revolusi Iran dan persepsi Arab tentang Zionisme dikupas dalam buku ini dengan cermat dan ringkas. Buku ini bisa menjadi pintu kecil untuk mengantar menuju pintu “kritik-kritik” yang lebih besar seperti Naqd Naqd al-‘Aqli karya Tarabichi, atau Naqd al-‘Aqlāniyyah karya Ilyas Marqus.
Al-‘Alim juga memiliki karya lain yang secara khusus dan serius mengupas pemikiran tokoh-tokoh terkemuka seperti Hasan Hanafi, al-Jabiri dan Zaki Najib Mahmud, yaitu Mawqifuna min al-Turāts. Semua tulisan Al-‘Alim kini telah dikumpulkan dan diterbitkan di Hai’ah al-Mishriyyah dalam ± 8 jilid dengan harga yang terjangkau buat masisir.
2. Naqd al-Fikr al-Yawmy (1988) — “Kritik Pemikiran Sehari-Hari”
Buku ini merupakan kumpulan naskah yang ditulis Mahdi Amil dari tahun 1980 sampai 1987, semacam refleksi pemikiran yang ia tinggalkan setiap kali ia usai membaca surat kabar, majalah, dan buku yang sedang diperbincangkan orang-orang. Dalam buku ini, diterbitkan 61 naskah dan 18 catatan pinggir dan satu lagi naskah yang ia belum selesaikan karena terjadi insiden penembakan terhadapnya di jalan lengang Beirut dan, sayangnya, tak lama kemudian ia meninggal.
Buku ini memuat komentar kritis Amil terhadap tiga arus utama pemikiran yang ia bagi berdasarkan kemungkinan epistemologisnya; 1) tayyar ‘adamy yang memandang pengetahuan secara nihilistik, 2) tayyar dzalamy yang menutup diri terhadap marxisme dan menghambat kemungkinan bangunan teori Marx untuk diketahui, atau disebut juga kaum obskurantis, dan 3) tayyar al-burjuwazy al-muta’aslim yang mengadopsi cara pandang borjuistik dalam selubung Islamisme. Sebenarnya tulisan ini penuh dengan istilah teknis filsafat dan marxisme. Pada awalnya akan seperti batu terjal yang sulit dilewati, namun begitu sudah terbiasa akan terasa lebih mudah dan gagasan-gagasannya sangat menyenangkan untuk dibaca.
3. Naqd al-Fikr al-Dīnī (1969) — “Kritik Nalar Religius”
Apakah yang akan anda pikirkan ketika semua peristiwa sehari-hari ditafsirkan melulu di atas cara pandang religius? Seperti mangkirnya komunisme dari Arab ditafsirkan sebagai berkah Tuhan telah mengusir setan-setan? Atau kekalahan Arab dari Israel karena masyarakat Arab telah mengkhianati keimanannya?
Buku ini bertolak dari respons-respons Sadik J. Azm atas cara pandang religius dominan semacam itu. Disituasikan oleh peristiwa kekalahan dan naiknya fundamentalisme di panggung politik, cara pandang religius menjadi semacam pisau bedah yang digunakan oleh kelompok fundamentalis dan semakin populer di kalangan pemuda. Buku ini diterbitkan dua tahun setelah buku kontroversialnya al-Naqd al-Dzāti ba’da al-Hazīmah. Gagasannya tentang pertentangan agama dan sains memang kurang matang di buku ini, tetapi overall buku ini sangat menarik untuk dibaca, lebih-lebih mempertimbangkan situasi politik dan situasi keagamaan pada waktu itu.
4. Al-Nahdlah al-Mujahhadhah (2011) — “Renaisans yang Digugurkan”
Jika anda adalah tipe masisir yang serius mengkaji Nahdlah (renaisans Arab atau Tanwīr), maka Buku yang ditulis Salamah Kaylah ini wajib anda baca. Buku ini tidak hanya merefleksikan kegagalan Nahdlah Arab, tetapi juga analisa mendalam di setiap fasenya.
Kaylah membagi fase Nahdlah kepada tiga fase dengan lima tren pemikiran; 1) fase renaisans menuju kapitalisme, kita dapat melihat tren Islam reformis dan sekuleris-nasional memperebutkan gagasan tentang modernitas, 2) fase revolusi sosialis, kita dapat melihat tren sosialis-marxis dan sosialis-nasional memperdebatkan kegagalan kapitalisme di Arab, 3) fase kemunduran, kita dapat melihat dominasi kelompok-kelompok Islamis melalui gerakan shahwah Islāmiyyah setelah kekosongan politik dan nihilnya ide-ide tentang perubahan.
Tentu di dalam buku ini kita tidak akan mendapati kritik utuh tentang pemikiran tokoh ini dan tokoh itu, dikarenakan kritik yang demikian hanya Kaylah tuliskan secara parsial bebarengan dengan narasi Nahdlah. Tapi pembaca tetap dapat membaca secara mana-suka di setiap babnya.
5. Fī al-Tsaqāfah Al-Mishriyyah (1955) — “Tentang Kebudayaan Mesir”
Jika anda menggemari kritik sastra dan cukup terganggu dengan jargon “sastra untuk sastra” maka buku ini akan menjawab kegelisahan anda. Buku ini merupakan kumpulan kritik sastra yang pernah diterbitkan Mahmud Amin al-‘Alim dan Abdul Azim Anis di koran-koran Mesir sekitar tahun 50-an, kemudian dibuatkan pengantar dari Husain Muruwwah. Buku ini ibarat kritik tajam dari generasi sastra muda kepada generasi tua pemuja sastra klasik. Al-‘Alim dan Anis berusaha untuk menampik “sastra untuk sastra” dengan mengembalikan sastra sebagai cerminan kenyataan sosial dan politik. Perdebatan dimulai dengan gagasan tentang isi dan bentuk, yang menurut keduanya hubungan isi dan bentuk adalah hubungan realitas sosial dengan karya sastra, bukan makna dengan lafadz sebagaimana diyakini oleh Taha Husain.
Buku ini konon adalah cikal bakal dari pandangan realisme dalam kesusastraan Arab. Namun anda mungkin tidak akan menemukan gagasan yang matang dan mendalam di buku ini, sebaliknya buku ini seperti balas-balasan di facebook, hanya saja tidak sepertibola liar.
6. Azmāt al-Hadhārah al-‘Arabiyyah am Azmāt al-Burjuwāziyyāt al-‘Arabiyyah (1974) — “Krisis Peradaban Arab ataukah Krisis Borjuasi Arab”
Buku keenam ini adalah kumpulan kritik yang ditulis oleh Mahdi Amil membahas gagasan-gagasan yang lahir dari konferensi Kuwait pada 1974 yang mengusung tema “Krisis Perkembangan Peradaban Negara-Negara Arab” mencakup gagasan tentang nalar (al-‘aql), peradaban (al-hadhārah) dan kemunduran (al-takhalluf). Di dalam buku ini Mahdi Amil berusaha meneliti keterbatasan teoritis dari gagasan pemikir-pemikir yang terlibat dalam konferensi tersebut: Zaki Najib Mahmud, Syakir Mustafa, Adonis, Ibrahim Abu Lughod, Fuad Zakariya, Kostantin Zurayk dan lain sebagainya.
Di dalam buku ini Amil menjelaskan kekeliruan epistemologis dari para pemikir itu, di mana krisis nyata dari kemunduran yang menjadi objeknya justru direduksi sebatas pada kritik nalar. Di sela-sela bab kritiknya ini, Amil juga menjelaskan kerangka-kerangka alternatif yang dapat menjadi penawar bagi kekeliruan tadi.
7. Hal al-Qalbu li al-Syarq wa al-‘Aqlu li al-Gharb? (1985) — “Apakah Hati untuk Timur dan Pikiran untuk Barat?”
Buku ini ditulis Mahdi Amil sebagai respons terhadap Orientalisme Edward Said yang sedang naik daun pada waktu itu. Yang mendorong Amil untuk menuliskan kritik ini adalah klaim Said bahwa analisa Marx tentang corak produksi India tak lain merupakan pendekatan orientalis.
Tentu saja yang Amil tulis bukanlah cacian kepada Said ataupun pembelaan apologetik atas gagasan Marx, tetapi ia membedah secara close reading pembacaan Said terhadap Marx. Dengan itu ia sampai pada kesimpulan bahwa Said mengaburkan objek kenyataan yang riil dengan representasi objek2 di ranah pengetahuan, dan Said mengidentikkan secara esensial-topologis temuan ilmiah Marx dengan ‘Barat’, sedangkan baginya ‘Timur’ secara esensial berbeda dan tidak dapat menerima temuan ilmiah tersebut.
Bagi Amil orientalisme Said menjadi hambatan epistemologis bagi adanya perubahan radikal Arab. Karena, lewat pengaburan objek kenyataan dengan representasi objek itu, Said justru menghapus kemungkinan bagi kelas pekerja Arab untuk membuat tandingan ilmiah bagi ketidak-masuk-akalan kapitalisme. Lha wong temuan ilmiah didudukkan sejak awal sebagai non-pengetahuan. Buku ini asyik dibaca, khususnya jika anda akrab dengan orientalisme dan filsafat epistemologi.
Tujuh buku kritik di atas kiranya dapat membukakan pintu untuk memasuki wahana marxisme di Arab. Meskipun ketujuh buku ini berisi artikel-artikel pendek, pembaca yang sama sekali awam tetap akan menemui kesulitan-kesulitan tertentu jika tidak menguasai istilah teknis marxis yang sedikit-sedikit muncul di buku-buku ini. Oleh karena itu, rasa malas untuk berseluncur-maya tetap harus disingkirkan dan kamus istilah marxisme harus siap sedia menjadi teman.
Catatan Akhir
Footnotes
-
Teorinya yang sangat berguna adalah rumusannya tentang Corak Produksi Kolonial. ↩
-
Dalam filsafat materialis, dibedakan antara objek riil yakni yang independen dari kesadaran, dan representasi atas objek itu yakni cerminan dari objek yang dibentuk oleh kesadaran. Amil tidak menafikan bahwa sebagian besar kerja-kerja sarjanawan Barat tidak ilmiah dalam menggambarkan Timur dan cenderung mendistorsi objek yang sesungguhnya. Namun kritik pascakolonial yang digagas Said, yaitu dengan membongkar representasi-representasi kultural yang digambarkan Barat tentang timur, tidak cukup menjelaskan bagaimana struktur material (baca: kapitalisme) telah berperan dalam membentuk representasi itu. ↩