Selamat ulang tahun yang ke-25, sayang. Kini kau telah memasuki seperempat abad, dan waktu terasa sangat cepat.

Maafkan aku yang mengejutkanmu di hari ulang tahun hanya dengan kata-kata dan gambar. Gambar hanya sekedarnya, karena aku tak ingat betul bagaimana dulu kugambar wajahmu di layar laptop. Aku mengingat detil wajahmu, dengan semua roman dan ekspresi. Tapi aku lupa bagaimana menggambarkannya dengan mouse ini. Dan maaf atas hadiah kata-kata, yang kaku dan kasar seperti watakku. Aku masih belum ulung dalam hal ini. Tak ada hadiah yang mewah atau hadiah apa pun yang menegaskan apa milikku yang mestinya kuserahkan kepadamu di hari ulang tahunmu ini. Apakah yang patut diharapkan dariku sementara apa yang telah menjadi milikku telah menjadi milikmu. Bahkan ide-ide menjadi milik kita bersama. Kadang idemu melebur ke dalam ideku dan sebaliknya. Hanya perasaan pribadi yang milik masing-masing. Dan itu yang bisa kuberikan padamu dalam bentuk gambar dan kata-kata.

Hidup bersama denganmu, dalam institusi yang orang-orang sebut dengan keluarga, sampai hari ini adalah salah satu kesenangan terbesar dalam hidupku. Kesenangan karena kita memiliki cita-cita dan kepentingan yang sama dalam institusi ini. Kita menjadikannya ruang eksperimen juga. Untuk mewujudkan kesetaraan ketika sebagian besar orang menceburkan diri dalam institusi ini dengan relasi patriarki yang kuat. Tidak ada penundukan laki-laki terhadap perempuan, katamu. tidak ada penundukan produksi terhadap reproduksi, kataku. Kita sepakat bahwa kerja merawat seperti mencuci piring, melipat baju, memasak adalah kerja-kerja yang juga dihitung. Kita juga sepakat bahwa kerja yang menghasilkan uang (di dunia ketika kapitalisme menyesaki hidup) adalah kerja-kerja yang sama dengan kerja perawatan. Semua masalah mesti didudukkan bersama. Dalam satu kompas yang sama. Sebab kita berada di atas geladak nasib yang sama.

Aku bangga bahwa kau menerimaku apa adanya. Kau tentu bangga pula aku menerimamu apa adanya. Tetapi banyak orang berpikir sebaliknya. Begini, orang-orang mengira bahwa ada-mu, di ruang diskusi, di ranah feminis, masuk kelas SPP, dan kemampuan ulungmu dalam rasa bahasa dan tulis itu turunan dari ada-ku. Jelas ini menyakitkan buatmu. Sebab, seolah hidupmu dianggap tiruan dari hidupku. Ini juga menyakitkan buatku. Di forum kajian, misalnya, di mana bukan hal yang ganjil bahwa partisipasi perempuan sangat minim, beberapa orang beranggapan bahwa partisipasimu dalam forum yang sama denganku atas dasar karena relasimu denganku sebagai suami-istri. Dalam hal lainnya, beberapa orang beranggapan bahwa pengetahuanmu tentang feminis menjadi mungkin sebab kedekatanmu denganku. Padahal, sayang, aku tak tahu banyak tentang feminisme. Bahkan aku menghitung tokoh feminis tidak bisa selengkap jari-jari yang kumiliki.

Sakit hatiku sebab dianggap seolah tidak ada alasan sama sekali aku denganmu menjalin pernikahan ini. Aku memilihmu dan sebaliknya. Namun dianggapnya aku memilihmu tidak didasari apa pun kecuali cinta. Prett! Aku memilih untuk mencintaimu dengan berjuta alasan. Dan aku meresikokan hidupku untuk itu atas dasar berjuta alasan pula.

Kau telah memasuki seperempat abad, dan waktu terasa begitu cepat.

Membuka pita umur yang baru berarti meraba-raba apa yang akan terjadi di masa mendatang. Masa depanmu adalah juga masa depanku. Apa yang kuharapkan adalah bahwa kita berdua dapat bergandeng tangan dan tetap kuat di dunia yang tidak tenang. Dunia yang mengusik sudut-sudut kehidupan kita. Dunia dimana kapitalisme seperti nafas kehidupan, dan kekerasan terhadap hidup kita dan orang-orang di sekitar seperti rutinitas sehari-hari.

Aku berharap bahwa kita akan selalu berhati-hati bertindak, sebab kesalahan kecil kita bisa turut andil mengubah hidup orang lain terjatuh dalam lubang kesengsaraan. Di umur 25 tahun, semoga engkau bisa segera menggapai apa yang kau inginkan, meski tak cepat tak apa. Sebab cita-cita memiliki tangga yang kadang tidak lempang, bahkan berliku.