Pada Minggu, 1 Februari, diselenggarakan sebuah nadwah bertajuk “Mustaqbal al-Yasār wa al-‘Amal al-‘Āmm fī Miṣr” di Dār al-Marāya. Diskusi ini menghadirkan sejumlah tokoh penting dalam spektrum gerakan kiri di Mesir, di antaranya Khaled Ali, Muna Meena, Akram Ismail, Hisham Fouad, dan Elhamy Mirgani, serta dipandu oleh Jurnalis Mada Masr Mai Qabil. Nadwah ini mencoba untuk membaca kemungkinan masa depan gerakan kiri di Mesir dalam lanskap politik terkini.

Semua pembicara dalam nadwah ini sama-sama sepakat bahwa rakyat Mesir — dan masyarakat dunia pada umumnya — masih dan semakin membutuhkan keberadaan gerakan kiri dalam praksis aktivisme publik (al-‘amal al-‘āmm). Kebutuhan ini merupakan sebuah keniscayaan historis yang lahir dari konflik global, krisis kapitalisme dunia yang semakin dalam, serta akumulasi dampak sosial-ekonomi yang secara langsung menggerogoti kehidupan rakyat: inflasi, pemiskinan struktural, dan ketimpangan sosial.

Selain dilandasi oleh kebutuhan objektif masa kini, kesadaran tentang betapa pentingnya menghidupkan kembali gerakan kiri di Mesir juga ditopang oleh refleksi historis bahwa ia pernah hidup dalam urat nadi rakyat Mesir satu abad silam. Refleksi historis gerakan kiri satu abad lalu ini penting dan, di dalam nadwah tersebut, ia dijelaskan secara singkat dan padat lembar per lembar babak sejarahnya. mulai dari kemunculannya sebagai sebuah partai komunis pada dekade 1920-an, kemudian dinamika politiknya pada tahun 1940-an dan 50-an, hingga proses pelumpuhannya pada tahun 1970-an seiring konsolidasi negara neoliberal pasca-Nasser. Dan bagaimana ia hidup kembali sebagai janin politik dalam revolusi 25 Januari 2011, meski dalam bentuk yang rapuh dan belum matang.

Hisham Fouad, jurnalis dan aktivis sosialis, menegaskan bahwa problem masa depan gerakan kiri di Mesir, bagaimanapun hanya dapat dijawab melalui penyelidikan yang ketat terhadap situasi objektif saat ini. “Analisis material terhadap kondisi global dan nasional merupakan prasyarat penting bagi kemungkinan praksis gerakan.” Ia kemudian melanjutkan bahwa krisis kapitalisme dunia, yang ditandai oleh ketimpangan geopolitik imperialisme, kesenjangan ekonomi, serta krisis iklim menunjukkan bahwa kritik Marx terhadap kapitalisme tetap menjadi perangkat analisis yang relevan bagi generasi masa kini.

Pesan yang disampaikan Hisham menyiratkan bahwa massa masih perlu mempelajari dengan sabar khazanah tradisi marxis dan memikirkan jalan keluarnya di masa kini, sehingga dapat mendesain rancangan yang tepat dan kesadaran yang kokoh atas situasi objektif terkini. Dan secara tak langsung ia juga menunjukkan pentingnya peran gerakan, sebab kapitalisme kendati ia mengalami krisis yang tajam, tak bisa serta merta hancur seketika tanpa melibatkan agensi kelas pekerja.

Akram Ismail, anggota sekaligus pendiri partai Hizb al-‘Īsy wa al-Hurriyyah, menambahi penjelasan Hisham dengan menekankan pentingnya peran seniman, pemikir, dan aktivis kiri dalam mengisi ruang kepemimpinan gerakan massa. Sebab, realitas sekarang menjelaskan bahwa massa telah tercekik kondisi hidupnya, terjebak dalam arsitektur politik kekerasan yang dibangun rezim, dan kesulitan untuk membangun kesadaran politik yang memadai.

Apa yang ditekankan Akram menjadi lebih penting lagi jika kita mempertimbangkan dinamika gerakan dalam negeri sejak perlawanan Palestina pada Oktober 2023. Pemerintahan Mesir terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ketidakstabilan internal dan eksternal, yang kerap kali diterjemahkan ke dalam praktik penundukan sistematis terhadap kesadaran revolusioner melalui kekerasan, penahanan sewenang-wenang, dan kontrol ketat atas ruang publik.

Sejak Oktober 2023 isu Palestina mendapat solidaritas rakyat yang kuat di Mesir — juga di negara Arab lainnya . Tetapi oleh pemerintah isu ini justru dimanfaatkan sebagai narasi pengetatan keamanan, dan konsekuensinya dapat mereka gunakan untuk sekaligus menekan potensi gejolak massa dalam negeri yang pada waktu itu —  hingga sekarang — tengah mengalami krisis ekonomi yang luar biasa. Dalam konteks ini, solidaritas terhadap Palestina dalam semua kasusnya di Mesir dianggap oleh pemerintah sebagai kriminalitas. Kriminalitas di sini sifatnya berlapis: tidak hanya tindak solidaritas itu sendiri, tetapi potensinya untuk melebar ke solidaritas sesama rakyat di dalam negeri juga dianggap sebagai kejahatan.

The State and Revolution, V. I. Lenin

A state arises, a special power is created, special bodies of armed men, and every revolution, by destroying the state apparatus, shows us the naked class struggle, clearly shows us how the ruling class strives to restore the special bodies of armed men which serve it, and how the oppressed class strives to create a new organization of this kind, capable of serving the exploited instead of the exploiters.

Saat ini, rakyat Mesir tentu merasa marah dan muak terhadap pemerintah. Tetapi kemarahan tidak serta merta dapat mendorong mereka, bahkan di kalangan serikat pekerja, untuk dapat menciptakan gelombang massa yang besar sebagaimana tsawrah Januari. Khaled Ali, yang hingga kini konsisten mengadvokasi hak-hak kaum pekerja, menjelaskan tahapan-tahapan gerakan massa. Ia membagi kualitas gerakan massa ke dalam tiga tahapan: pertama, kemarahan; kedua, kesadaran; dan ketiga, pengorganisasian. Kemarahan jelas tengah dirasakan secara luas oleh rakyat Mesir saat ini. Namun berefleksi pada apa yang sudah terjadi, kemarahan pada praktiknya kerap dimonopoli dan diarahkan oleh arus-arus non-kiri, seperti kelompok Islamis atau spektrum liberal atau kekuatan kontrarev yang sengaja diciptakan rezim. Sementara itu, gerakan kiri sendiri masih menanggung trauma historis sejak dekade 1970-an, yang membuatnya tertinggal dalam mengartikulasikan dan mengorganisir kemarahan tersebut.

Gerakan kiri di Mesir memang masih jauh dari harapan ketika Revolusi 25 Januari meletus. Meski begitu, pengalaman revolusioner pada tahun yang menentukan tersebut tetap menyimpan pelajaran penting. Pertama, bahwa krisis ekonomi global tahun 2008 menjadi pemicu utama kemarahan rakyat dan membuka ruang bagi kebangkitan kesadaran politik. Kedua, membuncahnya gelombang massa yang besar pada 25 Januari disyaratkan oleh munculnya gerakan-gerakan kecil sebelumnya, yang tersebar dari Aswan ke Alexandria dan bergerak secara konsisten. Gerakan-gerakan kecil telah pada beberapa tahun sebelum Tsawrah telah mengambil karakter pemberontakan di beberapa titik pabrik. Di antara tahun 2007 hingga 2010 sendiri terdapat 2100 insiden di mana para pekerja melakukan protes dan serangan. Di sinilah tantangan gerakan kiri di Mesir hari ini: membangun kembali kerja-kerja kecil yang sabar dan terorganisir.

Meskipun perkembangan gerakan kiri sekarang mengalami kebuntuan, Mesir masih menjadi negara penting bagi perkembangan gerakan kiri di negara-negara Arab lainnya. Mengingat, bahwa Mesir memiliki populasi dan kelas pekerja terbesar di antara negara lainnya. Perubahan politik yang signifikan di Mesir tentu akan memberikan pengaruh yang besar terhadap negara lain. Tetapi tantangan yang dihadapi oleh gerakan kiri di Mesir tidaklah ringan. Serikat-serikat pekerja sendiri telah sejak lama ditundukkan di bawah mesin birokrasi negara sejak Nasser, dalam satu naungan serikat umum al-Ittihad al-‘Āmm li Niqābāt ‘Ummāl Mishr. Situasi ini pula yang juga menciptakan karakter reformis di antara kebanyakan para pimpinan serikat, di mana mereka mempercayai bahwa urusan politik sama sekali merupakan urusan yang terpisah dari perserikatan: buruh tak perlu berpolitik. Di tengah perkembangan gerakan ini, mendengar Muna Meena, yang merupakan aktivis penting dalam Perserikatan Dokter, memberi angin harapan yang cukup menentramkan, “bagaimanapun situasi serikat-serikat sekarang, di dalamnya kita masih bisa mendapati [anggota-anggota] yang [tergabung dalam gerakan] kiri.”

Two Articles On Centrism, Leon Trotsky

Viewed historically reformism has lost completely its social hosts. Without reforms there is no reformism, without prosperous capitalism, no reform.