Di bulan mendatang, ABC Marxisme akan beristirahat sejenak dari teks-teks klasik Marx. Tahun lalu, kami sibuk menguliti Das Kapital. Kemudian bulan Ramadhan silam kami menyelingi ibadah kami dengan tadarrus Manifesto Komunis. Sekarang, semakin gelapnya situasi di Palestina mendorong kami untuk mengkaji dan utamanya, mempersenjatai solidaritas kami untuk Palestina dengan pemikiran-pemikiran politik dalam perspektif sosialis. Dan pintu pertama yang hendak kami masuki adalah sebuah buku pengantar berjudul “Palestine: A Socialist Introduction” yang ditulis oleh para aktivis Palestina dan disunting oleh Sumaya Awad dan Brian Bean. Teman-teman budiman boleh sekali bergabung di ABC Marxisme ini: download ebook dan daftar dengan mengisi formulir ini.

Ide untuk mengkaji buku ini muncul ketika kami disodorkan di depan muka kami sendiri berbagai opini masisir merespons larangan pemerintahan Mesir, dengan berbagai pendapat dan alasannya, terhadap Global March To Gaza yang sedang berlangsung. Entah pendapat itu menyetujui pemerintahan Mesir, dalam satu keranjang yang sama dengan membersihkan nama baik Al-Azhar, atau tidak menyetujui sikap Mesir, dibarengi dengan berbagai argumen geopolitik yang, sayangnya, dipikirkan secara reduktif; maksudnya, susunan argumen yang mengandaikan seolah negara adalah hasil personifikasi yang terlepas dari dinamika internalnya, atau susunan argumen yang hanya fokus pada kepentingan figur politik yang secara “diplomatis” mewakili negara tersebut, tanpa pernah melihat bagaimana hubungan figur tersebut dengan dinamika politik masyarakat dan diferensiasi kelas di negaranya sendiri. Negara seolah adalah entitas tunggal, homogen dan satu suara. Cara pandang terakhir sebenarnya dicoba untuk didekolonialisasikan oleh para pemikir yang bergelut di bidang HI, dikarenakan wataknya yang eurosentris.
Secara umum berbagai cara pandang tersebut memecah fokus kita untuk tidak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di Palestina; dinamika politik internal semacam apa yang sedang berlangsung? Apakah saat ini muqāwamah masih berkobar? Bagaimana dengan hubungan antara para pekerja Palestina dan pekerja Israel? Apakah pekerja Israel nyaman-nyaman saja hidup di negara apartheid?
Cara pandang masisir yang menyedihkan merupakan hasil rentetan cara pandang sebelumnya yang tak kurang menyedihkanya menyangkut isu Palestina. Bukan tugas tulisan ini untuk menjelaskannya. Apa yang ingin kami sampaikan di tulisan ini adalah ajakan untuk membaca bersama dinamika politik Palestina dan refleksi terhadap cara pandang sebelumnya yang kebanyakannya tidak dapat dikatakan sebagai ilmiah. Dan salah satu faktor yang bisa kami simpulkan sementara ini adalah miskinnya literasi politik masisir, terutama dinamika politik di Palestina.
Kita berlanjut ke refleksi…
Apa jadinya seandainya kita, para mahasiswa indonesia yang tinggal di Kairo menginginkan pembebasan bagi penduduk Palestina yang tengah (dan sejak lama) dibombardir Israel namun tak memiliki bekal yang memadai tentang dinamika kelas dan politik di sana?
Tentu saja kita marah terhadap IDF yang dengan sengaja dan tanpa rasa manusiawi menjatuhkan berjuta bom ke pemukiman warga Palestina. Kita tentu juga marah bagaimana para tentara itu menutup-nutupi kebiadaban mereka agar tak terdengar oleh telinga kita.
Namun tanpa pengetahuan yang memadai tentang dinamika politik Palestina sendiri dan bagaimana hubungannya dengan Israel, kemarahan kita hanya akan menjadi ekspresi yang tak terarah dan membabi buta.
Tentu saja bukanlah hal buruk jika kita mengutuk tindakan Israel, namun kita juga harus memikirkan dalam tujuan apa kita mengutuk mereka? Dan amit-amit, bagaimanakah jadinya seandainya kemarahan itu justru berbalik menjadi bumerang buat kita sendiri, misalnya secara tak sadar kita arahkan kemarahan kita pada kekerasan terhadap orang-orang terdekat di lingkungan kita, sebagaimana digambarkan oleh Mustafa Hijazy dengan konsep Insān Maqhūr-nya. Efek psikologis ini banyak terjadi pada kasus di negara seperti Mesir yang melarang berbagai bentuk ekspresi solidaritas. Kemarahan akan menjelma kekerasan yang menyasar pada orang-orang yang kita cintai.
Kedunguan kita tentang politik juga akan menjerumuskan kita dalam mengidentifikasi lawan. Kita tahu bahwa Amerika adalah pihak utama di balik kekejian Israel. Tapi kita bisa jadi keliru menangkap relasinya. Misal, yang kita lihat dari Amerika bukanlah praktik imperialismenya tapi keberadaannya sebagai negara sekuler. Atau ilusi konseptual lainnya yang serupa; seperti, ateisme di Baratlah yang membuat Israel yang maha jahat itu berada di atas tangan. Kita juga menjadi tidak peduli dengan berbagai upaya yang turut mempercepat proses revolusioner, sebagaimana banyak orang tidak mempercayai bahwa upaya Iran sedikit-banyak turut mempercepat proses tersebut, hanya karena Iran adalah negara Syiah. Berbagai cara pandang menyedihkan ini dapat kita temukan di komunitas masisieur yang terhormat!
Mari kita bertanya…
Apakah Netanyahu adalah lakon utama? Ataukah lainnya? Bagaimana dengan rezim-rezim Arab yang reaksioner itu?
Akibat kebodohan kita tentang dinamika politik pada isu Palestina, kita rawan tergelincir ketika mengidentifikasi masalah. Problemnya tidak semua masalah tampak jelas di mata. Terdapat masalah-masalah yang sifatnya tersembunyi, laten dan terus bekerja di balik layar. Dan masalah tersebut dapat disingkapkan salah satunya dengan proses membaca secara ilmiah dan jeli.
Karena masalah itu tak kunjung terlihat hilalnya, sebagian dari kita cenderung mereduksi masalah itu jadi dosa-dosa. Ketidakmampuan kita melihat masalah dan menempuh proses ilmiah yang berliku semakin mendorong kita untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Misalnya solusi solat shubuh berjamaah. Tentu tidak ada yang salah dengan hal ini, yang keliru adalah menggiring orang-orang untuk beranggapan, baik secara sadar maupun tak sadar, bahwa akar masalah Palestina adalah karena kita telat dan tidak pernah berjamaah ketika menunaikan ibadah subuh. Ada juga yang beranggapan bahwa masalah Palestina adalah dosa kolektif yang harus kita tanggung setelah kita memunggungi perintah-perintah agama di era modern.
Dengan celotehan ini kami tidak bermaksud meremehkan doa dan peribadatan.
Doa tentu saja penting, namun ia tidak dapat menggantikan pembelajaran ilmiah. Ikhtiar juga harus dilakukan. Ikhtiar yang kecil namun terarah secara politik itu lebih baik daripada ikhtiar besar yang membabi buta tanpa dipersenjatai pengetahuan politik yang memadai.
Sejatinya, kedunguan akan menjuruskan praktik-praktik politik kita yang semestinya bersifat sosial hanya untuk agenda penyelematan diri sendiri.
Tanpa pengetahuan dinamika politik di Palestina dan sekitarnya, kita dapat sewaktu-waktu memaksakan kehendak pribadi tak berdasar yang kita miliki. Siapakah yang tidak ingin wangsa Arab bersatu dalam isu Palestina ini? Dari membaca politik kita menjadi tahu bahwa terdapat fragmentasi pandangan dan kepentingan yang membuat negara-negara Arab enggan bersatu-padu.
Persatuan itu adalah impian yang telah lama digadang-gadang oleh para pemuda Arab di pertengahan abad ke-20. Mereka telah berusaha untuk menyatukan rezim-rezim reaksioner mereka yang keras kepala dalam satu rel perjuangan yang sama. Namun, setiap rezim ternyata memiliki pandangan dan kepentingan politik masing-masing. Tentu saja semua ini tidak dapat dipersatukan semata-mata oleh himpunan senjata dan pasukan (yang digitnya berderet-deret itu). Mempelajari politik berarti mempelajari relasi di antara gerakan politik satu dengan lainnya, bukan lomba akeh-akehan senjata. Bagaimana detilnya? Apa yang mestinya dilakukan oleh pemuda Arab? Kekuatan apa yang dapat membuat bangsa Arab bersatu jika ‘Persatuan Arab’ dan ‘Persatuan Islam’ gagal? Tentu untuk menjawabnya membutuhkan tulisan yang lebih panjang lagi dan pembelajaran yang lebih lanjut.
Apa yang dikatakan buku ini?
Buku ini diawali dengan klaim bahwa semua gerakan revolusioner itu terhubung, sehingga tidak terpisah satu sama lain. Dan karena saling terhubung, setiap gerakan revolusioner saling menopang dan bisa saling dikaitkan. Ghassan Kanafani menulis:
“The Palestinian cause is not a cause for Palestinians only, but a cause for every revolutionary, wherever he is, as a cause of the exploited and oppressed masses in our era.”
Gerakan pembebasan Palestina tidak hanya berkaitan dengan perlawanan terhadap Zionisme, tetapi juga Imperialisme, dan perlawanan terhadap rezim reaksioner di Timur Tengah. Inilah yang ingin dijelaskan secara njlentreh tapi padat di buku ini. Jadi, bukan karena perbedaan kepentingan religius atau semacamnya. Juga, bukan karena perbedaan bangsa dan seterusnya.
Di bagian pertama buku ini kita akan disuguhkan sejarah Israel di Palestina sebagai sebentuk penjajahan. Mengapa proses itu dinyatakan sebagai proses penjajahan dan bagaimana ia berlangsung akan secara padat dipaparkan di bagian ini. Selain itu, bagian ini juga menjelaskan bagaimana peran Israel sebagai kepanjangan tangan imperialisme Washington di Timur Tengah. Penjajahan dan imperialisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama.
Selanjutnya, di bagian kedua kita akan dituntun oleh para esais di buku ini untuk menyaksikan bagaimana gerakan-gerakan pembebasan Palestina dan perlawanan mereka lahir. Namun, gerakan pembebasan Palestina tidak cukup diceritakan sebagai entitas yang berdiri sendiri. Ia juga harus diceritakan dalam peta gerakan di Timur Tengah secara umum. Bagaimana posisi gerakan-gerakan di Palestina terhadap rangkaian perjanjian damai? Apa saja yang mereka pertaruhkan? Bagaimana kepentingan gerakan satu bertubrukan dengan kepentingan gerakan lain di Palestina? Bagaimana dengan gerakan revolusioner Arab yang lainnya? Pertanyaan-pertanyaan Inilah yang akan dijawab di bagian ini.
Kita juga akan disajikan pengetahuan baru bahwa Israel secara internal terfragmentasi kepentingannya. Terdapat empati dan simpati yang besar dari kelas pekerja Israel untuk melakukan perlawanan terhadap rezim. Tetapi pada akhirnya rezim dapat mengkoordinasikan kelas pekerjanya untuk turut mempertajam proses penjajahan itu sendiri.
Bagian ketiga dan terakhir mengalihkan perhatian kita pada peran solidaritas internasional. Terdapat sebuah wawancara dengan salah satu pendiri BDS, Omar Barghouti dengan diskusi tambahan tentang torehan dan tugas-tugas ke depan gerakan tersebut. Sementara itu tulisan lainnya menganalisis hubungan antara pembebasan Palestina, pembebasan perempuan, dan perjuangan pembebasan kaum kulit hitam di Amerika Serikat.
Buku ini tentu saja hanyalah pengantar. Untuk membaca secara lebih dalam tentang apa yang terjadi di Palestina membutuhkan literatur yang beragam, baik itu menyangkut perjuangan Palestina, maupun perjuangan revolusioner di belahan bumi lain, serta teori-teori ekonomi, sosial dan politik. Seyogyanya kita tidak berhenti pada buku ini saja. Buku ini adalah pintu awal yang akan mempertemukan kita pada lorong-lorong perjuangan politik dalam rumah besar ‘Palestina’.