Ini adalah catatan untuk Tadarrus an-Nazʿāt pada 7 Juli 2026

Menurut Muruwwah, pemecahan masalah hubungan — yang mana latar belakang dari masalah ini telah dijelaskan dalam pembahasan sebelumnya — antara masa kini Arab (dalam dimensi nasional, sosial dan pemikirannya) dan turāts masa lalu hanya dapat diselesaikan dengan mengungkap dua hal berikut:

  1. Hakikat muatan revolusioner dari gerakan pembebasan nasional Arab di masa kini dan mendatang
  2. Hakikat hubungan esensial antara muatan revolusioner ini dengan posisi revolusioner terhadap turāts.

Dua hal di atas menjadi tujuan besar Muruwwah, dan an-Naz’āt merupakan terapan praksis dari tujuan tersebut.

Hakikat muatan revolusioner dari gerakan pembebasan nasional Arab di masa kini dan mendatang

Meningkatnya kesadaran pembebasan nasional (dekolonisasi) dan pembebasan sosial (revolusi) memperlihatkan proses perubahan muatan revolusionernya.

Bagaimanakah peningkatan ini?

  1. Semakin dalamnya permusuhan terhadap kekuatan imperialisme dan kekuatan yang terlibat atau mengikuti atau berpartisipasi dengannya dalam proses perampasan hak nasional rakyat. (contoh: proyek Zionis).
  2. Perubahan bentuk permusuhan ini sepanjang praksis perjuangannya dalam bentuk, tingkatan, dan muatan yang berbeda menjadi permusuhan terhadap sistem kapitalisme.
  3. Kesadaran politik, yang juga dipicu oleh kedua permusuhan tadi mengkristal, menjadi kesadaran kelas yang melipatgandakan watak nasional sekaligus watak sosial (revolusi), di mana proyek pembebasan nasional melebur bersama proyek pembebasan sosial. (contoh: marxis Lebanon 60-an)
  4. kristalisasi kesadaran politik tadi mulai membawa perubahan nyata dalam watak inheren gerakan pembebasan nasional Arab (yang terejawantah ke praktik revolusioner). masyarakat terdisintegrasi dan terbelah (secara kontradiktif) menjadi dua kelas: pertama, para elit rezim yang didukung (dan mendukung) dan terserap dalam (kepentingan) kelas yang baru (yakni, kapitalis serta borjuis kecil). Kedua, mayoritas pekerja dan petani miskin, para intelektual revolusioner, tentara dan kelompok yang mengambil sikap menentang terhadap borjuis kecil dan menengah. Kontradiksi antara dua kelas ini membuat kelas yang kedua menjadi semakin revolusioner dan radikal (karena perspektif kelas tersingkap dalam proses pembentukan kesadaran politiknya)
    • Yang kedua juga terhubung dengan gerakan pembebasan di penjuru dunia lainnya di Asia Timur, Afrika, dan lain-lain. Kepentingan semua kelas terakhir ini di pucuknya adalah pembebasan Palestina.
    • Sementara itu, kelas yang pertama mampu menjadi senjata kontrarevolusi yang mampu menghantam setiap gerakan kelas yang kedua. Mereka mewakili kepentingan imperialisme: AS-Zionisme, reaksioner Arab.
  5. Perubahan reaksi dari pembebasan nasional yang semula bertopang pada cara pandang nasionalis chauvinis atau cara pandang yang lebih dekat dengan salafi-judud, berarti bahwa:
    1. meninggalkan konsep dan cara pandang usang sebelumnya,
    2. memilih untuk mengintegrasikan praktik gerakan mereka dengan pendekatan ilmiah revolusioner.
  6. gerakan pembebasan nasional menyadari keniscayaannya terhubung secara organik dengan gerakan revolusioner di dunia dengan tujuan utamanya adalah pendirian negara sosialis.

Hakikat Hubungan Esensial Antara Muatan Revolusioner Ini Dengan Posisi Revolusioner Terhadap turāts.

Sebelum sampai ke situ perlu diperjelas bahwa hakikat itu haruslah bersifat:

  • objektif
  • realis (berpangku pada kenyataan)

posisi revolusioner terhadap (masalah dan problem) masa kini mengandaikan posisi yang revolusioner pula terhadap turāts (berarti: pengetahuan tentangnya adalah pengetahuan yang revolusioner). Posisi revolusioner menurut Muruwwah mestilah menyeluruh (syumūlī) dan tak terbagi-bagi.

Bagaimanakah itu?

⇒ dengan membangun pengetahuan di atas prinsip ideologis dari kekuatan revolusioner hari ini.

Muruwwah mengatakan:

Sikap revolusioner terhadap persoalan-persoalan masa kini mengharuskan kita untuk bertolak dari sikap tersebut dalam memandang turāts; yakni untuk memahaminya dengan pemahaman yang revolusioner, dan membangun pengetahuan ini di atas landasan ideologi kekuatan revolusioner itu sendiri di masa kini. Yaitu kekuatan-kekuatan yang memiliki hubungan sejarah yang objektif dengan basis sosial dari produksi warisan intelektual di masa lalu; yang kami (dengan basis sosial tersebut) maksud adalah kekuatan-kekuatan sosial terdahulu yang memproduksi basis-basis material, yang kemudian tercermin dalam bentuk-bentuk kesadaran sosial — filsafat, sains, sastra, seni — yang membentuk warisan ini.

Membangun pengetahuan di atas ideologi revolusioner ini berdasar pada watak dari realitas itu sendiri ⇒ berarti pengetahuan tentang turāts itu sendiri bersifat ideologis.

Turāts Secara Objektif Dan Realis Ini Kemudian Dijelaskan Muruwwah

Bentuk-bentuk pengetahuan tentang turāts berbeda-beda bagi setiap orang yang memikirkannya pada masing-masing eranya. Sebagian bentuk pengetahuan itu saling berbeda satu sama lain, sebagiannya saling bertentangan dan sebagian lainnya saling identik.

Problem: bagaimana menafsirkan fenomena semacam itu? pengetahuan itu saling berbeda satu sama lain tetapi hasil pikiran turāts itu sendiri adalah satu hal, serupa realitas historis yang memiliki gambaran yang tetap, teks-teks yang beku yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perbedaan Antara turāts Dan Pengetahuan Tentang turāts

Pengetahuan tentang turāts merupakan ekstra-turats yang dirujukkan ke bermacam-macam sumber. Oleh karena itu ia berlipat ganda, beragam dan berbeda satu sama lain. Namun turāts itu sendiri satu tiada lainnya.

Di sinilah Muruwwah menegaskan bahwa pengetahuan tentang turāts mesti dipisahkan secara ontologis dari keberadaan turāts itu sendiri. Turāts itu sendiri merupakan objek independen dan terpisah dari subjek yang mengamatinya. Ia “satu tiada lainnya” sehingga ada tidaknya turāts tidak bergantung pada ada tidaknya pengetahuan tentangnya di masa kini. Justru sebaliknya, pengetahuan tentang turāts menjadi mungkin karena turāts dapat ada dengan atau tanpa pengetahuan kita tentangnya.

Turāts bersifat objektif karena ia pernah ada secara aktual terlepas dari kita tahu atau tidak. Misalnya: Turāts filsafat Aristoteles berarti merujuk pada sistem pengetahuan yang pernah dimiliki oleh Aristoteles. Pengetahuan tentang turāts tersebut dapat diakses melalui terjemahan, teks-teks, komentar tentangnya lewat Ibnu Rusyd, misalnya.

Muruwwah menekankan pula bahwa pengetahuan tentang turāts dapat “berlipat ganda, beragam dan berbeda satu sama lain”. Di sini kita dapat menafsirkan pernyataan Muruwwah tersebut bahwa pengetahuan tentang turāts memiliki relativisme epistemologis, di mana pengetahuan yang ‘netral’ tentangnya menjadi mustahil. Relativisme epistemologis (istilah yang dipinjam dari Bhaskar) menegaskan bahwa pengetahuan tentang turāts tidak bersifat absolut, tetapi juga tidak sepenuhnya acak karena sejatinya ia dijangkarkan pada struktur ontologis turāts yang independen.

Muruwwah melanjutkan penjelasannya bahwa adalah keniscayaan jika orang-orang yang menghasilkan bentuk-bentuk pengetahuan tentang turāts saling berbeda satu sama lain karena satu hal tertentu.

Apakah itu satu hal tertentu?

Perbedaan personal? Tentu saja bukan. Sebab seandainya perbedaan antara satu pengetahuan dengan pengetahuan lainnya dipicu oleh faktor-faktor personal-subjektif, niscaya keserupaan dan kemiripan menjadi hal yang jarang atau bahkan mustahil.

Menurut Muruwwah, bentuk-bentuk pengetahuan tentang turāts yang kadang saling identik, kadang saling berbeda, kadang saling bertentangan satu sama lain itu muncul dari titik berangkat yang bersifat sosial bukan individual, dan bersifat objektif, bukan subjektif.

Berdasarkan investigasi sejarah filsafat yang dilakukan Muruwwah (yang nantinya akan dikaji sebagai materi diskusi berikutnya), dapat disimpulkan bahwa setiap pengetahuan tentang turāts muncul dari posisi ideologis para pemikir.

Posisi ideologis pemikir pada dasarnya adalah cermin dari posisi kelasnya. Posisi kelas tidak disyaratkan untuk hadir secara langsung, tetapi ia bisa hadir tersembunyi dalam relung pemikiran di mana bentuk pengetahuan tertentu bertopang di atasnya. Ini merupakan hukum umum bagi setiap pengetahuan di setiap turāts manusia di peradaban mana pun.

Di era ini misalnya terdapat dua bentuk pengetahuan dalam melihat ajaran filsafat klasik Yunani. Dicontohkan pengetahuan tentang ajaran Aristoteles. Ada satu pihak yang berusaha menampilkan aspek-aspek idealismenya dan membersihkan aspek-aspek materialismenya (dengan reduksi, distorsi) agar menjadi idealisme murni.

ada pula di seberang pihak yang berusaha menampilkan aspek-aspek materialismenya, tanpa mengabaikan aspek-aspek idealisme dalam ajaran filsafat tersebut.

Dua bentuk pengetahuan ini membuktikan bahwa perbedaan antara dua peneliti arab dalam berbicara tentang satu turāts ajaran filsafat berangkat dari perbedaan (basis) pemikiran dan ideologinya (lihat catatan kaki hal. 23). Dari perbedaan tentang satu ajaran ini akibatnya terdapat perbedaan dalam melihat pengaruh ajaran tersebut terhadap filsafat Islam, dan ini penting sebab ajaran filsafat Aristoteles tak bisa ditampik merupakan fondasi penting bagi pembentukan filsafat Arab-Islam. [filsafat Arab Islam mengambil aristoteles salah satunya sebagai dasar untuk meragukan filsafat materialisme generasi sebelumnya seperti Thales, Anaximenes, Anaximander, Heraclitus, demokritos dll]

Perbedaan Penafsiran Sejarah

Mengapa penafsiran sejarah filsafat dapat berbeda satu sama lain?

Fakta yang sudah diketahui: perbedaan penafsiran ini dapat digolongkan menjadi aliran-aliran dan madrasah-madrasah pemikirannya.

Oleh karena itu perbedaan penafsiran sejarah tidak dapat diartikan sebagai hasil dari perbedaan individual-subjektif. Perbedaan ini adalah perbedaan objektif yang kerap tidak disadari oleh penafsir, yang dicerminkan dari perbedaan tujuan-tujuan yang tak langsung.

Tujuan-tujuan tak langsung ini berangkat dari perbedaan titik berangkat ideologisnya. Perbedaan ideologis maka dari itu merupakan fondasi dari keberagaman epistemologis dalam menentukan arah dan pendekatan narasi sejarah.

Dalam hal pembabakan sejarah misalnya, banyak sejarawan filsafat yang bertolak dari ideologi borjuis. Ketika mereka hendak menentukan faktor determinan gerak sejarah filsafat, mereka mengambil standar ukuran yang berbeda dalam menentukannya. Namun kebanyakannya secara substansial bersifat ahistoris: ukuran era, ukuran kemunculan pemikiran tertentu dan lain sebagainya. Para sejarawan borjuis menghindari pandangan materialisme historis dalam menentukan babak sejarah.

Apakah Itu Menafsirkan Sejarah Dengan Materialisme Historis?

Yaitu penafsiran yang dilandaskan pada nosi bahwa filsafat muncul dalam masyarakat sebagai cerminan tak langsung dari realitas material (relasi produksi dan corak produksi).

Tentang Basis dan Superstruktur

Dalam sudut pandang materialisme historis, struktur masyarakat dibagi menjadi dua: basis dan superstruktur. filsafat digolongkan keberadaannya di ranah superstruktur sebab keberadaannya ditopang oleh corak produksi dan relasi produksi. Corak produksi dan relasi produksi merupakan basis masyarakat.

Selain filsafat superstruktur mencakup juga ranah politik, hukum, negara, ideologi, pengetahuan, dsb.

Adanya aktivitas berfilsafat di Yunani klasik yang mekar disebabkan oleh cara produksi perbudakaan di mana secara demografis populasi budak mencapai hampir setengah populasi masyarakat Yunani. Dengan adanya lapisan populasi yang tidak bekerja, dan dengan didukung pula oleh institusi dan lembaga superstruktur lainnya, muncul kelas-kelas menengah-atas yang diisi oleh kaum filsuf sehingga filsafat sebagai aktivitas menjadi mungkin. Artinya berfilsafat (sebagai produksi pengetahuan) dan filsafat (sebagai produk pengetahuan) menjadi mungkin sebab pada titik terakhirnya ia ditopang oleh keberadaan basis (yaitu relasi dan corak produksi perbudakan).

Meskipun demikian, bukan berarti superstruktur tidak dapat memberikan efek terhadap basis. Filsafat dapat mempengaruhi relasi dan cara produksi masyarakat Yunani waktu itu. Filsafat memiliki otonomi relatif (istilah ini disebut Muruwwah dengan istiqlāl nisbī dalam catatan kaki hal. 21) yang membuatnya mungkin untuk mempengaruhi — entah itu mereproduksi atau mengubah — struktur basis. Dalam kasus filsafat Yunani, ia menjadi instrumen ideologis yang dikembangkan oleh para pemiliki budak untuk mempertahankan polis, yang mampu mengatur dan menstabilkan relasi produksi perbudakan itu sendiri di tengah konflik politik internal.

Pembabakan sejarah filsafat menurut materialisme historis yang dicontohkan Muruwwah:

  1. filsafat masyarakat perbudakan
  2. filsafat masyarakat feodalisme
  3. filsafat masyarakat transisi dari feodalisme ke kapitalisme
  4. filsafat era imperialisme dan revolusi proletar
  5. filsafat era sosialisme dan komunisme.

Perbedaan ideologis menjadi fondasi dari perbedaan penafsiran sejarah filsafat. Perbedaan ideologis ini dalam penafsiran sejarah tak berbeda dengan perbedaan dalam filsafat itu sendiri. Dalam filsafat, perbedaan ini terlihat dalam dua konflik antara dua kecenderungan filsafat materialisme dan idealisme.

Dalam penafsiran sejarah, penafsir sejarah berangkat dari posisi kelasnya → dari kepentingan-kepentingan yang dimiliki oleh kelas tertentu di mana ia menjadi bagian darinya.

Para penafsir yang berkecenderungan materialis tidak mengabaikan filsuf idealisme dan kedudukan idealisme sebagai kecenderungan dominan. Sebaliknya, mereka tetap menerimanya sebagai kenyataan sejarah di satu sisi, dan meletakkan pemikiran-pemikirannya sebagai bagian dari objek kritik atas keseluruhan bangunan filsafat idealis. Inilah posisi pemikiran yang menyadari posisi kelasnya.

Sementara itu, para penafsir idealis dalam banyak kasusnya tidak mempertimbangkan konflik-konfilk pemikiran mereka terhadap para filsuf materialis. Materialisme justru diabaikan dan dicoba untuk didistorsi. Sejarah yang idealis tentang filsafat menolak memasukkan materialisme sebagai bagian sah dari filsafat dan menarasikannnya sebagai: materialisme adalah musuh agama sedangkan agama dan filsafat itu satu kesatuan. Inilah posisi ideologis dari penafsiran idealisme.

Pengetahuan Tentang turāts Selalu Berangkat Dari Masa Kini

Di mana pun masa-kini pengamat ada, turāts yang dia amati (berarti: pengetahuan tentang turats) sudah selalu merupakan produk pengetahuan masa kini.

Hal ini sama berlakunya untuk para pemikir salafi. Para pemikir salafi bersikeras untuk melihat masa kini dengan lensa masa lalu → memindah pemikiran masa lalu yang memiliki dimensi ke-masa-lalu-annya sebagai ganti dari dimensi-dimensi yang berkembang di masa kini. Pada kenyataannya mereka tetap berangkat dari posisi yang mereka tempati dalam hierarki sosial saat ini, yakni kelas tertentu yang ideologinya mereka wakili, baik itu dikarenakan karena mereka memang berbagi kesadaran kelas yang sama atau karena alasan lain yang terkait dengan pembentukan intelektual mereka dan sifat kesadaran politik dan kelas mereka.

Salafisme adalah bentuk dari bentuk-bentuk ideologis yang turut bertempur-pemikiran di era kontemporer.

Problemnya adalah: Hubungan antara masa kini dengan turāts bukan hanya satu hubungan (tunggal perspektifnya) selagi masa kini sendiri diartikan dalam berbagai perspektifnya. (Penafsiran tentang) masa kini kontemporer ditentukan oleh lapisan kelas sosial yang beragam, konflik-konflik yang dimasuki, dan realitas dalam kontradiksi yang berbeda pula dalam isu nasional, sosial, demokrasi, dan pemikiran. Semakin batas-batas ini saling bertentangan satu sama lain, posisi-posisi ini akan semakin kelihatan garisnya.

Setiap kelompok memiliki ke-masa-kini-an-nya yang spesifik.

Kaum salafi memiliki ke-masa-kini-an-nya yang berwatak masa lalu, kaum progresif memiliki ke-masa-kini-an-nya yang berwatak masa depan.

Hubungan kaum salafi dengan masa lalu seperti hubungan orang yang tenggelam bergayut pada tali penyelamat, hubungan kaum progresif dengan masa lalu seperti hubungan masa depan yang menyatu dalam kesatuan historis bersama dengan semangat transformasi masa kini.