Pembuka

Karakter pengetahuan tentang filsafat Islam dari abad pertengahan sampai sekarang didominasi cara pandang yang:

  • idealis (mitsālī)
  • metafisis (mītafīziqī)
  • subjektif (dzātī)
  • ahistoris (lātārīkhī)
  • one-dimensional (ahādiyāt al-jānib)
  • statis (sukūnī)

Oleh karena pengetahuan tentang filsafat Islam bersifat demikian, al-Naz’āt mengajukan cara baru dalam menyikapi turāts, yang berpegang pada metode ilmiah yang belum pernah dilakukan sebelumnya di dunia turāts pemikiran Arab: materialisme historis.

Untuk Apakah Materialisme Historis

  • menyingkap hubungan yang objektif (alāqah maudhū’iyyah) dan riil antara hukum internal dari perkembangan pemikiran (qawānīn dākhiliyah li al-fikr) dan hukum umum dari realitas sosial (qawānīn ‘amm li al-mujtama’).
  • melihat hubungan tersebut dalam dinamisme-historis (harakah tārīkhiyyah)
  • memahami nilai relatif dari turāts
  • menentukan apa yang yang mesti dilestarikan di era kini sebagai bukti keaslian hubungan objektif antara unsur-unsur progresif dan demokratis dari turāts Arab dan unsur-unsur progresif dan demokratis dari kebudayaan nasional Arab di masa kini.

Masalah Turāts sebagai Problem Masa Kini

al-Naz’āt memperlakukan problem turāts pemikiran bertolak dari keberadaannya sebagai problem pemikiran Arab masa kini, bukan problem pemikiran masa lalu. Sebab, ia merupakan upaya sistematis dan ilmiah untuk mengungkap “hubungan antara pemikiran dalam struktur sosial Arab saat ini dan pemikiran yang mendahuluinya dalam struktur sosial sebelumnya.”

Upaya-upaya untuk melihat kembali turāts (recalling turāts) sebagai problem pemikiran Arab masa kini muncul dari keniscayaan historis sehubungan dengan kebutuhan nasional yang objektif akan keterlibatan praktik teoritis dengan turāts pemikiran bangsa Arab pada tahap revolusi pembebasan waktu itu. Bukan sebagai kebetulan hanya karena wacana tentangnya dimulai hampir bersamaan, juga bukan sebagai hasil dari inisiatif dan keinginan yang individual.

Upaya-upaya untuk melihat kembali turāts (recalling turāts) sebagai problem pemikiran Arab masa kini mewakili fase transformatif baru dari problem turāts yang sudah dimulai lebih dari seabad yang lalu.

Mengapa Nahdah Arab Mungkin Ada Pada Abad ke-19?

  1. Struktur ekonomi feodal lama di dunia Arab saat itu mulai retak karena tidak sanggup lagi menahan beban birokrasi militer Utsmaniyah yang korup. Muruwwah mendefinisikan sistem kekuasaan Turki Utsmaniyah saat itu sebagai “pemerintahan feodal militer yang terbelakang dan sedang mengalami pembusukan sejarah.” Mengapa?
    • Sebab sistem tersebut bersifat menindas dan memeras sumber daya ekonomi wilayah Arab melalui pajak yang berat tanpa memberikan kemajuan industri atau sosial,
    • Dominasi menyebabkan hubungan-hubungan dalam bangunan sosial masyarakat Arab menjadi goyah karena sistem feodal militer Utsmaniyah sudah tidak mampu lagi menjalankan fungsinya sebagai pelindung atau penggerak ekonomi yang stabil.
  2. Munculnya kekuatan imperialisme Eropa yang mulai mengincar wilayah-wilayah Utsmaniyah (yang dikenal sebagai Masalah Oriental) semakin mempercepat proses pembusukan struktur sosial yang ada.
  3. Pertemuan intelektual antara pemikir Arab dengan gerakan sosial, politik, dan intelektual para pemikir Eropa Barat pada abad 19.
  4. Gerakan tumbuh dan berkembang di kalangan intelektual, perwira, dan mahasiswa Arab, yang dalam berbagai tingkatannya dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas, dan di antara kaum borjuasi dagang (merchant bourgoeise) yang sedang berkembang (Lebanon, Mesir, dan Suriah). Muncul kontradiksi antara kepentingan kaum borjuasi ini yang secara relatif progresif dan struktur feodal Turki Utsmaniyah yang sedang runtuh, ditambah dengan ambisi kaum borjuasi tersebut untuk menyelaraskan kepentingannya dengan Barat kapitalis.

Menurut Muruwwah, Nahdah di fase awalnya merupakan ekspresi intelektual yang spontan atas keretakan struktur sosial tersebut, tetapi juga merupakan bentuk janin dari gerakan pembebasan nasional Arab di masa mendatang.

Proses Transformasi Nahdah

Pada awalnya, Nahdah muncul sebagai respons intelektual dari kelas borjuasi Arab yang baru tumbuh dan progresif. Fase ini ditandai dengan protes-protes terhadap Keterbelakangan atau takhalluf.

Pada tahap ini, gerakan masih bersifat spontan dan “fawqiah” (elitis).

Nahdah kemudian bertransformasi menjadi gerakan yang lebih luas melalui apa yang disebut Muruwwah dengan infijār min al-dākhil (ledakan dari dalam)

  • Kesadaran rakyat Arab mulai bergeser dari sekadar sentimen kebangsaan spontan menjadi kesadaran politik yang menyatukan perjuangan melawan penjajah (nasional) dengan perjuangan melawan eksploitasi internal (kelas).
  • benih-benih sentimen nasionalis mulai tumbuh di kalangan massa Arab, bersamaan dengan tekad kuat untuk membebaskan diri dari berabad-abad kekuasaan Turki Utsmani.

Pergeseran kesadaran menjadi semakin jelas setelah Perang Dunia I, seiring dengan munculnya ambisi imperialis Barat untuk menerapkan kontrol kolonial dalam berbagai bentuknya atas negara-negara Timur (negara-negara Arab).

Transformasi mencapai puncaknya ketika Nahdah melebur sebagai gerakan pembebasan nasional secara fisik dan politik

  • Revolusi 1919 di Mesir, pemberontakan Suriah 1925, dan perlawanan bersenjata di Lebanon, Iraq dan Aljazair.

Mengapa Perbincangan tentang Turats perlu Ditransformasi

Sejak sentimen nasional mulai terbentuk di kalangan massa Arab, kebanggaan nasional diwujudkan dalam sastra dan bentuk pemikiran lainnya, yang mencerminkan aspirasi terhadap warisan masa lalu dengan beragam pencapaian kebudayaannya.

Namun aspirasi tersebut diekspresikan dengan:

  • upaya meniru gaya turāts, menjadi fanatik terhadapnya
  • membanggakannya secara berlebihan
  • menghidupkan kembali asal-usulnya melalui pengajaran, penyebaran, dan penjelasan, i.e. hanya mengulanginya dalam bentuk yang terdistorsi tanpa menambahkan, mengembangkan, atau mempertimbangkan kembali metode dan isinya.

Muruwwah menilai bahwa Recalling turāts dalam upaya-upaya semacam itu tetap merupakan gerakan yang reaksioner dalam metodenya, meskipun progresif dalam motivasinya sebab mengekspresikan semangat nasionalis menghadapi tantangan kolonial lama (Turki) dan tatangan kolonial baru (Imperialisme Barat).

Setelah Perang Dunia I, motif nasionalis sebelumnya berubah menjadi pemberontakan dan revolusi nasional bersenjata, dan gerakan Nahdah yang semula bersifat dari atas ke bawah berubah menjadi gerakan pembebasan nasional yang secara bertahap memperdalam akarnya di kalangan massa.

Gerakan Recalling turāts juga mulai bertransformasi dari sekadar pengulangan turāts menjadi gerakan untuk meninjau ulang tidak hanya pencapaian turāts, tetapi juga teori-teori kolonial Eropa yang rasis tentang turāts bangsa-bangsa yang dijajah.

Teori-teori kolonial Eropa itu bertujuan untuk:

  1. meremehkan sejarah dan kebudayaan nasional bangsa-bangsa terjajah, memutuskan ikatan mereka dengannya,
  2. mengosongkan masa lalu mereka dari segala sesuatu yang memberi mereka hak untuk berbangga,
  3. menggambarkan bangsa-bangsa tersebut sebagai bangsa yang secara inheren dan historis tidak mampu memiliki hak untuk menjadi bagian dari keluarga bangsa-bangsa yang mampu menghasilkan peradaban dan budaya, tidak hanya di masa lalu, tetapi juga di masa kini dan masa depan.

Perbincangan tentang Turāts yang Berwatak Borjuis

Pergeseran perbincangan tentang turāts sebagaimana dijelaskan sebelumnya merupakan tren yang progresif. Namun penerapan tren ini disertai dengan sikap yang tidak sesuai dengan tujuan progresifnya, dan bahkan berbanding terbalik dengannya.

Mengapa demikian?

Karena sikap-sikap tersebut mengadopsi perspektif borjuis dalam mendekati turāts → sikap tersebut mengambil karakter nasionalis-chauvinis yang memusuhi demokrasi kebudayaan baik dalam hubungan internal maupun eksternalnya.

Secara internal, sikap borjuis terhadap turāts:

  • mengabaikan karakter sosialnya, menekankan aspek subjektif dan statusnya sebagai pencapaian individu yang diciptakan oleh kejeniusan “elit” intelektual yang terpisah dari hubungannya dengan konteks sosial-historis dan terpisah dari kekuatan manusia yang produktif serta peran kekuatan-kekuatan produktif ini dalam menghasilkan dasar material bagi pencapaian warisan budaya.
  • secara eksklusif berfokus pada aspek metafisik dari turāts.

Adapun secara eksternal, posisi borjuis:

  • tidak hanya berupaya mengabaikan keterkaitan antara turāts kebudayaan bangsa dan kebudayaan nasional serta global lainnya.
  • Sebaliknya, tujuannya adalah untuk menggantikan teori-teori rasis Eropa dengan teori-teori baru dalam menilai turāts nasional masyarakat Asia dan Afrika.

Note

Misalnya, filsuf Pakistan Muhammad Sharif, yang menyatakan bahwa “filsafat Islam memberikan prinsip-prinsip pertama bagi gerakan humanis, memperkenalkan ilmu-ilmu sejarah dan metode ilmiah kepada Barat, meletakkan dasar-dasar Renaisans Italia, dan memengaruhi pemikiran Eropa kontemporer hingga Immanuel Kant.”

Meskipun kesimpulan-kesimpulan Sharif tidak diragukan lagi memiliki dasar historis, formulasi absolutnya, yang mengabaikan faktor-faktor historis lainnya, membuat kesimpulan tersebut rentan terhadap kritik ilmiah dan justru memberinya karakter fanatisme yang menggantikan fanatisme Barat yang ditolak.

Menurut Muruwwah, reaksi borjuis di Timur terhadap teori-teori rasis Barat tersebut memiliki sifat yang sama dengan reaksi itu sendiri, yang berakar pada karakternya yang rasis. Berdasarkan reaksi ini dan faktor-faktor nasionalis lainnya, sikap terhadap warisan budaya muncul dengan ciri khas pemikiran nasionalis borjuis. Sikap-sikap ini menggeser kerangka pemikiran dari “teori filsafat Eurosentris” ke “teori Oriental-sentris”.

Modernisasi Yang Dipaksakan (al-‘Ashranah)

Bentuk lain dari sikap nasionalis borjuis terhadap warisan ini termanifestasi dalam gerakan-gerakan Salafis. Di antara tren yang dibawa adalah “modernisasi” turāts (al-‘Ashranah): memaksakan ide-ide masa lalu agar sesuai dan selaras dengan ide-ide masa kini, dengan mengabaikan semua tahapan sejarah dan perubahan radikal terhadap ide-ide turāts yang terjadi selama tahapan-tahapan tersebut, serta kondisi ekonomi dan sosial dan terobosan ilmiah yang menciptakan ide-ide di dunia saat ini yang secara historis tidak mungkin muncul di luar kondisi dan terobosan tersebut.

Beberapa bentuk al-‘Ashranah:

  • “sosialisme Arab” dan “sosialisme Islam.”
  • prinsip-prinsip kapitalisme dalam Islam
  • buku-buku yang meneliti “materialisme” dalam teks-teks Islam, atau penelitian tentang “personalisme Islam,” atau
  • tentang “humanisme dan eksistensialisme dalam pemikiran Arab.”
  • ilmu-ilmu alam dari Al-Quran, yang menurut pengetahuan kita di zaman ini, mengandung ilmu-ilmu tersebut.
Mengapa ‘ashranah semacam itu bermasalah?
  • menurut Muruwwah “modernisasi” ide daripada filsafat tradisional, kuno, dan abad pertengahan dengan cara-cara seperti ini mengarah pada adopsi gagasan pengidentikan (tamātsul) antara ide-ide masa lalu dan ide-ide masa kini.
  • gagasan di atas merupakan gagasan metafisik yang menyangkal “historisitas” dan dinamisme pemikiran, mengutuknya pada stagnasi dan kebekuan.
  • gagasan-gagasan di atas memindahkan kondisi-kondisi seperti kapitalisme, sosialisme, eksistensialisme, beserta konsep-konsepnya yang kontemporer, dari iklim hubungan sosial dan faktor-faktor objektif yang riil di masa kini ke iklim historis masa lalu di mana mereka sama sekali tidak mungkin memiliki sebab-sebab untuk ada.
  • mengadopsi gagasan pengidentikan (tamātsul) mengarah pada penyederhanaan ide-ide filosofis kontemporer hingga ke titiknya yang vulgar. Betapa vulgarnya, misalnya, pemikiran matematika Einstein jika diklaim tidak berbeda dengan pemikiran matematika Pythagoras, dan betapa banalnya materialisme dialektis Marxis jika diidentikkan dengan materialisme naif para materialis Yunani kuno.

Kalam Akhir

mengapa perbincangan turāts menjadi penting?

  • Munculnya berbagai gerakan pembebasan nasional, runtuhnya imperialisme, serta meningkatnya konflik ideologis membuat pertanyaan tentang bagaimana sikap kita terhadap turāts menjadi isu yang sangat penting.
  • Isu ini muncul dengan cara pandang baru: turāts tidak hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, tetapi ia dinilai, diserap, dan digunakan untuk kepentingan konflik ideologis itu sendiri.
  • Konsekuensinya, persoalan mengenai turāts menjadi rumit dan menempati posisi sentral dalam pemikiran masa kini.

Borjuis vs Revolusioner

  • Pada tahap ini, penyelesaian terhadap problem turāts tidak mungkin dilakukan tanpa berpijak pada landasan ideologis yang jelas.
  • Kaum borjuis Arab mencoba menawarkan solusi sesuai dengan posisi ideologis mereka, meskipun saat itu gerakan pembebasan nasional Arab tengah mengalami perubahan revolusioner yang mendalam.
  • Sebaliknya, pemikiran revolusioner Arab sudah saatnya memberikan solusi yang berpijak pada ideologi kelas dan kelompok sosial yang berseberangan dengan kubu borjuis sayap kanan yang reaksioner.
  • Solusi yang ditawarkan kaum borjuis ternyata tidak hanya menunjukkan kebingungan ideologis mereka, tetapi juga kekurangan inherennya dalam ketidakmampuannya untuk berdamai dengan semangat ilmu pengetahuan kontemporer.
  • Kelemahan ini kemungkinan besar merupakan cerminan dari kebingungan ideologis yang dipicu oleh perubahan besar di zaman ini.
  • Dalam konteks seperti ini, pendekatan ilmiah yang benar-benar objektif pada akhirnya akan mengakui bahwa problem turāts hanya dapat diselesaikan secara tepat melalui metode Marxis-Leninis — yang dalam konteks turāts filsafat, ia menggunakan materialisme historis.
  • Metode Marxis-Leninis ini mendorong pada penekanan kandungan demokratis yang melekat dalam setiap turāts pemikiran.