Catatan ini dituliskan pada 20 Juli 2026.

Apakah yang spesifik dari pengetahuan tentang turāts dalam sudut pandang kekuatan revolusioner masa-kini?

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan menguraikan dua masalah berikut:

  • pendekatan revolusioner dalam memahami turāts,
  • konsepsi turāts dalam sudut pandang pendekatan revolusioner dan perbedaannya dengan pendekatan lainnya.

Pendekatan Revolusioner dalam Memahami Turāts

Di catatan sebelumnya telah ditegaskan bahwa beragamnya pengetahuan tentang turāts berangkat dari beragamnya landasan pemikiran dan watak ideologisnya. Setiap kelas memiliki ideologinya dan setiap ideologi memiliki berbagai modus dan pendekatan dalam menghasilkan pengetahuannya tentang turāts.

Apakah itu ideologi revolusioner yang menjadi fondasi utama an-Naz’āt?

Ideologi revolusioner merupakan ideologi yang dimiliki oleh kaum revolusioner, yakni kaum yang terdiri dari kelas-kelas dan golongan sosial yang berkepentingan untuk melakukan perubahan sosial revolusioner dalam fase historis tertentu. Ideologi revolusioner adalah ideologi mereka yang memiliki kepentingan yang revolusioner.

Kepentingan yang revolusioner di sini dipahami sebagai kehendak untuk mengubah situasi historis, pranata-pranata ekonomi-sosial, hukum dan politik yang tidak mampu memenuhi tuntutan perkembangan dan tuntutan progresif mayoritas kekuatan sosial.

Ideologi revolusioner dapat ditemukan di Arab abad ke-20, yang kepentingannya adalah merealisasikan revolusi nasional demokratis sebagai tahapan revolusi permulaan sebelum revolusi sosialis. Ideologi revolusioner ini diikuti, baik secara subjektif maupun objektif, oleh aliansi kekuatan progresif, nasionalis dan demokratis.

Nah yang krusial dalam masalah ideologi revolusioner ini adalah posisi pemikiran revolusioner-ilmiah dalam aliansi ini, dan posisi kekuatan progresif yang mengadopsi pemikiran revolusioner-ilmiah ini sebagai panduan dalam praktik politik militan di antara kekuatan-kekuatan aliansi yang ada. Menurut Muruwwah pemikiran revolusioner-ilmiah dan dan bagaimana ia dipraktikkan oleh kekuatan progresif dalam praksis gerakan (pembebasan Arab) menempati pengaruh yang menonjol (dalam perkembangan politik gerakan pembebasan Arab).

Pengetahuan revolusioner-ilmiah yang dimaksud adalah sosialisme ilmiah (Scientific Socialism) yang bertumpu pada dua fondasi utama: materialisme dialektis (diamat) dan materialisme historis (histomat). Materialisme historis merupakan asas pokok dalam menentukan metodologi dalam menghasilkan pengetahuan tentang turāts berdasarkan cara-cara yang revolusioner.

Konsepsi Turāts dalam Epistemologi Revolusioner dan Perbandingannya dengan Pendekatan Lainnya

Konsepsi tentang turāts dalam sudut pandang materialisme historis sejatinya (mensyaratkan) pandangan yang (materialis) dialektis dalam melihat relasi antara masa-kini dengan masa-lalu, dan begitu pula dalam melihat hubungan antara pengetahuan kontemporer tentang turāts serta muatan pemikiran dan muatan sosial yang terkandung dalam turāts itu sendiri.

Pandangan yang (materialis) dialektis tersebut bertopang pada dua proposisi berikut:

  1. pengetahuan kita tentang turāts merupakan produk pengetahuan dan ideologi kontemporer.
  2. pengetahuan kita tentang turāts, meski bertolak dari sudut pandang masa-kini, tidak mendekati turāts kecuali dalam historisitasnya.

Yang kedua berarti bahwa turāts mesti dipahami dalam dinamika kesejarahannya pada fase historis tertentu di mana ia muncul. Atau dengan kata lain, turāts dipahami dalam korelasinya dengan struktur sosial di mana turāts tersebut dihasilkan, dan (secara lebih luas lagi) dalam korelasinya dengan situasi-situasi historis yang menghasilkan struktur sosial tersebut beserta kespesifikan sejarah dan masyarakatnya.

Mendekati turāts dalam historisitasnya sebagaimana di atas berbeda dengan pendekatan neo-salafisme, yang melihat turāts secara tawfiqī dan notabene telah menjadi pendekatan dominan borjuis Arab lewat kampanye “modernisasi turāts” (tahdīts al-turāts).

Pendekatan Neo-Salafis

Beberapa ciri pendekatan neo-salafis yang ditekankan oleh Muruwwah dalam an-Naz’āt:

  1. Neo-salafisme melihat hubungan antara turāts dan masa-kini Arab dalam logika tamātsul, yang mana itu bertentangan sama sekali dengan cara pandang materialisme historis.
  2. Neo-salafisme melihat turāts berangkat dari pandangan yang metafisis terhadap sejarah, yakni pandangan yang meletakkan sejarah dalam gerakan siklus. Sementara itu, materialisme historis melihat sejarah dalam gerakan spiral-naik yang tunduk pada keniscayaan hukum-hukum umum gerak perkembangan sosial manusia.
  3. Tujuan dari modernisasi turāts yang dibawa oleh neo-salafis, yang mana itu bertentangan dengan tujuan materialisme historis.

Terkait dengan poin ketiga, perbedaan tujuan “modernisasi turāts” dengan tujuan materialisme historis terhadap turāts dapat dijelentrehkan dalam dua poin berikut:

1. Neo-salafis memproyeksikan masa-lalu terhadap masa-kini selaras dengan kepentingan borjuis.

Masa-kini dalam pandangan neo-salafis dipahami semata-mata sebagai kepanjangan dari masa-lalu. Dengan kata lain relasi antara masa-kini dengan masa-lalu dipikirkan secara metafisis-statis, yang pada titik terakhirnya adalah mengidentikkan sama sekali masa kini dengan masa lalu. Sementara itu materialisme historis memahami hubungan antara masa-kini dengan masa-lalu sebagai hubungan perkembangan historis, yang isinya terbentuk dari gerak kesatuan-keterputusan (gerak dialektis sejarah) antara perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif dalam proses historis yang berkesinambungan.

2. tujuan neo-salafis adalah “mengambil dari para pendahulu — setelah mengabstraksikannya — berbagai sudut pandang mereka dalam menghadapi masalah-masalah spesifik yang menjadi subjek pembahasan mereka” dan “kita melihat berbagai persoalan sebagaimana mereka melihatnya. Sederhananya, kita menilai berbagai solusi kita pada masalah kita hari ini dengan standar dan ukuran yang sama dengan yang para pendahulu gunakan dalam menilai solusi dari masalah mereka.”

Berbeda dengan tujuan tersebut, tujuan materialisme historis adalah memahami problematique dari posisi/sikap yang ada terhadap turāts, yakni memahami “masalah hubungan antara pemikiran masa-kini dalam struktur sosial masa-kini-nya dan pemikiran masa lalu dalam struktur sosial masa-lalu-nya.”

Materialisme historis tidak bertujuan untuk “mengambil dari para pendahulu — setelah mengabstraksikannya — berbagai sudut pandang mereka dalam menghadapi masalah-masalah spesifik yang menjadi subjek pembahasan mereka” sebab masalahnya bukan pada tindak “mengambil” atau “tidak mengambil” dari para pendahulu. Masalahnya adalah bagaimana bisa sampai pada "kerangka (metode) yang dengannya pemikiran masa-kini melihat hubungannya dengan pemikiran masa-lalu".1 Maksudnya, “kerangka (metode) yang dengannya dapat tersingkap pemikiran yang begini bagi pemikiran yang begitu” tanpa mengabstraksikan (melepaskannya dari kekonkretannya) pemikiran masa lalu itu dari masalah-masalah mereka yang spesifik. Namun justru sebaliknya, materialisme historis hendak mempertahankan wataknya yang konkret itu. Materialisme historis hendak melihat pemikiran pendahulu yang hidup dalam darah dan dagingnya.

Ketika pemikiran para pendahulu itu diabstraksikan/dipisahkan — sebagaimana dikehendaki oleh neo-salafis — dari masalah-masalahnya yang konkret, maka ia dipisahkan dari hidup, darah dan dagingnya. Ia dipisahkan dari aspek-aspek kemanusiaannya, dari dinamikanya yang hidup sebagai produk pemikiran yang bertaut erat dengan gerak perkembangan sosial yang memiliki historisitas yang spesifik. Pada akhirnya, ketika diabstraksikan, ia justru dipisahkan dari nilai-nilai ke-turāts-annya.

Menyingkap problematique posisi/sikap terhdap turāts dilakukan dalam rangka untuk merealisasikan dua tujuan:

  1. bagaimana memahami turāts dengan kerangka yang baru
  2. bagaimana mempersanjatai pemahaman yang baru ini untuk membebaskan pemikiran Arab hari ini dari dominasi ideologi yang membebek/turunan (tābiʿah) pada pemikiran imperialis dan ideologi borjuis.

Tujuan kedua telah dibahas dengan panjang lebar pada pembahasan metode dasar I. Adapun tujuan pertama, yaitu bagaimana memahami turāts dengan kerangka yang baru, ditempuh dengan mula-mula meletakkan konsepsi turāts dalam kerangka konseptual yang historis.

Kerangka konseptual yang historis di sini maksudnya adalah kerangka konseptual pemikiran masyarakat Arab-Islam selama abad pertengahan yang dibasiskan pada hubungannya dengan kesejarahan masyarakat tersebut, dan hubungannya dengan struktur realitas materialnya.

Hanya dengan cara meletakkan konsepsi turāts yang demikian, kita mampu menyingkap benih-benih dan asas-asas sosial yang riil bagi mungkinnya turāts pemikiran Arab. Kita mampu menguasai tidak saja pandangan ilmiah yang dihasilkan oleh kekuatan sosial yang sedang berjuang dalam struktur sosial di masa lalu dengan kekhususannya itu, tetapi juga berbagai bentuk pemikiran dan ideologi bagi kekuatan tersebut, dalam formasi historisnya yang spesifik dengan kondisi-kondisi yang relatif bagi perkembangan pengetahuan pada waktu itu.

Memahami turāts dalam konsepsi semacam itu memampukan kita untuk menyingkap esensi dari hubungan turāts dengan situasi historisnya, dan di sisi lainnya menyingkap esensi dari hubungan objektif antara gerakan pembebasan Arab hari ini dan aspek-aspek revolusioner serta tak-revolusioner dalam sejarah Arab-Islam pertengahan.

Fungsi utama dari penyingkapan ini adalah sebagaimana berikut:

  • terungkapnya dimensi-dimensi historis gerakan revolusioner Arab hari ini
  • tersingkapnya unsur-unsur kesatuan antara dimensi-dimensinya di masa lalu dan dimensi-dimensinya di masa kini,
  • mampu meletakkan sifat ashālah dalam wataknya yang kekinian (yang berarti dapat memahami ashālah dan kontemporeritas dalam interaksinya)
  • dan menafikan apa yang telah diciptakan pemikiran imperialis dan pemikiran borjuis (yang seolah-olah mempertentangkan antara ashālah dan kontemporeritas).

Standar masa lalu, yang dimaksud oleh neo-salafis, yang digunakan oleh para pendahulu sejatinya muncul dari problem-problem dan kondisi-kondisi yang spesifik dalam kehidupan mereka parapendahulu, yang tidak sebanding dan tidak mirip dengan problem dan kondisi hari ini. Ia muncul dari tingkatan yang secara relatif terbatas oleh perkembangan alat-alat, materi, dan bentuk-bentuk pengetahuan di masa mereka. Dan itu berarti tidak relevan dengan tingkat perkembangan pengetahuan hari ini. Oleh karena itu standar antara mereka dengan kita mestinya juga berlainan.

Kesimpulan

Bertolak dari perbedaan yang timbul antara pendekatan materialisme historis dan neo-salafis, dapat disimpulkan bahwa watak umum dari konsepsi neo-salafis tentang turāts adalah metafisika, idealisme dan fatalisme. Dalam konsepsi ini masyarakat dibayangkan (bukan sebagai pencipta sejarah, melainkan) sebagai subjek yang tidak memiliki agensinya dalam mengorganisir masyarakatnya sendiri, sebagaimana mereka tidak memiliki kreativitas kolektif (bahkan dalam produksi materialnya).

Pendekatan salafis, entah itu klasik maupun baru, secara sadar atau tidak, pemikirannya mencerminkan watak borjuis Arab hari ini yang bertumpang tindih dengan watak ideologi imperialisme.

Adapun konsepsi turāts dalam pandangan revolusioner ilmiah adalah konsepsi yang berdenyut seiring dengan gerak sejarah itu sendiri yang membentuk turāts pemikiran Arab Islam. Watak umum dari konsepsi revolusioner ilmiah adalah bahwa ia mencerminkan watak pemikiran dalam hubungannya yang objektif, kendati tak langsung, dengan gerak masyarakat itu sendiri beserta masalah-masahalnya dan partikularitas historisnya, beserta kontradiksi-kontradiksinya dan bentuk-bentuk pemikiran yang mengekspresikan — dengan tingkat otonomi relatif yang beragam — berbagai konflik sosial dan ideologis yang lahir dari kontradiksi tersebut.

Konsepsi turāts semacam ini menghadirkan kekuatan agensi manusia yang aktif dan kreatif menciptakan sejarahnya, dan dapat memperlihatkan gerak perkembangan dan kemenjadian yang berlaku sesuai dengan keniscayaan hukum-hukum umum perkembangan sosial yang berinteraksi dengan keniscayaan hukum-hukum internal yang spesifik dalam formasi historis tertentu, bukan sesuai dengan keniscayaan metafisik fatalistik di luar kehendak manusia.

Materialisme Historis Sebagai Pendekatan

Pendekatan yang digunakan Muruwwah dalam an-Naz’āt adalah pendekatan materialisme historis.

Kata materialisme tidak berarti bahwa an-Naz’āt membatasi objek kajiannya pada pemikiran materialis atau filsafat materialis dan mengabaikan pemikiran dan filsafat idealis. Pembatasan (terhadap objek) yang semacam ini justru merupakan ciri utama dari pendekatan idealis dalam menafsirkan sejarah, khususnya sejarah filsafat — sebagaimana telah diperlihatkan dalam catatan sebelumnya.

Materialisme historis melihat sejarah secara komprehensif dalam semua aspeknya. Sejauh materialisme merupakan bentuk-bentuk historis dari pemikiran, pendekatan materialisme historis akan tetap melihat filsafat idealisme sebanding dengan bagaimana ia melihat filsafat materialisme. Karena baik materialisme maupun idealisme adalah kenyataan historis dalam sejarah filsafat, sedang mengabaikan salah satunya merupakan kecacatan dalam praktik teoretik itu sendiri.

Materialisme historis melihat bahwa bentuk-bentuk pemikiran yang idealis adalah bentuk-bentuk yang berada pada kedudukan yang sama dengan pemikiran materialis. Kesemuanya merupakan produk ideologis yang dihasilkan oleh posisi kelas dalam realitas material-sosial.

Sejauh pedekatan materialisme historis merupakan alat untuk menafsirkan sejarah, baik itu sosial maupun pemikiran, berdasarkan asas yang menyatakan bahwa sejarah merupakan (hasil) dari sejarah perkembangan material-sosial manusia, bukan (hasil) dari sejarah kesadaran manusia saja, maka materialisme historis mengkaji bentuk-bentuk pemikiran idealisme— pada titik terakhirnya — dalam kedudukannya sebagai produk kenyataan material-sosial . Tetapi di situ tetap dengan pembedaan antara produk material dan produk spiritual masyarakat, di mana produk spiritual masyarakat dihasilkan oleh refleksi yang lebih kompleks yang melibatkan hukum-hukum internal (dari pemikiran itu sendiri) yang memiliki otonomi relatif terhadap hukum-hukum umum sejarah perkembangan material-sosial.

Inilah yang membuat pendekatan materialisme historis (dalam telaah sejarah filsafat) memiliki watak realis dan menyeluruh (syumulī).

Atas dasar itulah, kendati objek pembahasan dalam an-Naz’āt adalah kecenderungan materialis, namun tidak berarti ia mengesampingkan dan mengabaikan bentuk-bentuk filsafat idealis. Hal ini dikarenakan beberapa sebab:

  1. Filsafat Arab-Islam secara khusus memiliki kecenderungan materialis yang berpaut (tasyābuk/interlock) dengan unsur-unsur idealisme dan metafisika hingga sampai di taraf ia sulit dipisahkan darinya tanpa mengkaji setiap tren filsafat dan turun tangan dalam meneliti setiap kekhususan dan manifestasi historisnya.
  2. Tidak ada filsafat idealisme yang benar-benar murni, baik itu klasik maupun modern, di Timur maupun di Barat. Dalam setiap ajaran filsafat idealisme tersembunyi aspek-aspek materialis dan dialektis, begitu pula situasi yang sama pada filsafat materialisme sebelum filsafat materialisme-dialektis Marx.
  3. Filsafat harus dilihat sebagai alir sejarah objektif yang senantiasa berkembang yang berpaut dan berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran yang beragam, di mana di atas alir sejarah tersebut unsur materialisme dan idealisme, juga unsur dialektika dan metafisika, saling berkonflik. Sejarah filsafat mesti dilihat sebagai sistem yang terdiri dari madrasah-madrasah, aliran-aliran pemikiran yang saling berinteraksi, yang sekaligus kesemuanya berada dalam (tegangan) kecenderungan menaik (evolusi) dari yang sederhana menunju yang kompleks, dari yang rendah menuju yang lebih tinggi.

Bentuk-Bentuk Materialisme dan Idealisme dalam Filsafat Arab-Islam

Dalam perkembangannya, filsafat materialisme memiliki beragam bentuk. Penelaahan historis mengungkapkan bahwa gerak perkembangan filsafat materialisme berlangsung menaik (secara evolutif) di mana perkembangan berikutnya merupakan perkembangan yang lebih sempurna dari sebelumnya.

Asas umum dari perkembangan tersebut dapat dijelaskan dalam tiga poin berikut:

  1. Pandangan atas dunia yang sama di dalam setiap mazhab materialisme. Kecenderungan materialisme melihat bahwa realitas eksternal secara ontologis mendahului kesadaran. Bahwa realitas eksternal itu objektif, azali, independen dari kekuatan lain di luar dirinya. Materialisme dalam berbagai mazhabnya saling beririsian dalam hal ini. Pandangan atas dunia ini berbeda dari pandangan yang dimiliki oleh filsafat idealisme dalam dua variannya: idealisme subjektif dan idealisme objektif. Idealisme subjektif melihat bahwa realitas eksternal tidak independen secara ontologis dari kesadaran. Sedangkan Idealisme objektif melihat bahwa realitas eksternal tidak independen secara ontologis dari kekuatan azali di luar keberadaannya (idealisme objektif).
  2. Terlepas dari fakta bahwa berbagai mazhab materialisme memiliki sikap yang sama terhadap dunia eksternal, namun adalah sebuah keharusan untuk menelaah hubungan dari setiap mazhab tersebut dalam setiap fase historis dan formasi politik yang spesifik pada masanya, serta menelaah bagaimana hubungan tersebut mempengaruhi watak materialisme pada tahapan-tahapan historis tersebut.
  3. Penting pula menelaah hubungan setiap mazhab materialisme itu dengan ilmu pengetahuan alam dan dengan tahap perkembangan yang telah dicapai oleh ilmu-ilmu tersebut. Hubungan ini mempengaruhi bentuk-bentuk dari materialisme sebagai mazhab filsafat. Misalnya pada pengaruh hubungan historis antara materialisme mekanik dan ilmu mekanika pada tahapan perkembangan di mana ilmu mekanik merupakan fenomena penting yang menjadi kespesifikan zamannya.

Sejarah Filsafat Materialisme

  1. Materialisme primitif
  2. materialisme metafisik
  3. materialisme mekanistik
  4. materialisme demokrat-sosial (revolusioner)
  5. materialisme dialektis

Catatan Muruwwah: tentang keterbatasan pembagian materialisme yang ada.


Adapun materialisme dalam filsafat Arab Islam tidak jauh berbeda dengan materialisme Eropa Abad Pertengahan, sebab materialisme mengambil bentuk-bentuk yang samar dan tersembunyi (laten) di balik lipatan-lipatan filsafat ketuhanan. Ketersembunyian ini justru dimanfaatkan oleh para peneliti filsafat untuk membenarkan pengaburan, pengabaian dan distorsi dalam sejarah filsafat tersebut (seolah-olah materialisme tidak ada sama sekali). Tugas an-Naz’āt adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk materialisme yang tersembunyi (dan disembunyikan) serta menemukan unsur-unsur pembentuk materialisme tersebut (baik unsur-unsur itu bertempat di ranah pemikiran itu sendiri maupun di ranah sosial yang memungkinkan secara ontologis unsur-unsur tersebut ada).

Pertanyaan berikutnya: bagaimana mengukur bentuk-bentuk spesifik dari materialisme tersebut?

Yaitu dengan tiga asas di muka yang merupakan prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sepanjang penelaahan sejarah filsafat Arab-Islam.

Footnotes

  1. Bagian ini digarisbawahi sebab belum jelas apakah yang dimaksud syakal di sini adalah kerangka pengetahuan, atau ia derivasi musykilah yang berarti problematique. Jika problematique, ini juga perlu kita tanya apakah ia memiliki makna tertentu sebagaimana problematique dalam “praksis teoretik” punya Althusser atau bagaimana.